Miris, anak ini alami trauma setelah dianiaya teman sekolahnya

Kamis, 8 Oktober 2015 13:38 Reporter : Siti Nur Azzura
Miris, anak ini alami trauma setelah dianiaya teman sekolahnya Bocah 6 tahun yang dibully di sekolahnya. ©2015 facebook.com

Merdeka.com - Kasus penganiayaan terhadap anak di bawah umur tengah gencar terjadi di masyarakat. Sayangnya, kasus ini bukan lagi hanya dilakukan oleh orang dewasa, namun anak di bawah umur pun juga kerap melakukan penganiayaan terhadap teman seusianya.

Setelah kasus penganiayaan bocah SD yang mengakibatkan tewasnya NA di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, kini kasus tersebut kembali terjadi di SD di wilayah Gading, Serpong. Seorang ibu bernama Yessi Caroline menceritakan pengalaman pahit yang dialami anaknya, A, karena dianiaya teman sekolahnya.

"Saya seorang ibu yang saat ini mencari keadilan untuk anak saya. Anak yang baru berusia enam tahun salah satu generasi muda penerus bangsa ini. Anak saya telah mengalami tindakan bully di sekolahnya. Beberapa waktu lalu kacamatanya selalu dirampas dan dilempar demikian juga dengan buku agama dan alat tulisnya oleh teman yang bukan sekelas dia (beda kelas dan hanya sekelas saat pelajaran agama), Jumat, 18 September, anak saya tiba-tiba panas tinggi dan dia ketakutan untuk sekolah. Kemudian dia cerita kalau dia dipukuli di sekolahnya minggu lalu," tulis Yessi melalui akun Facebooknya seperti dikutip merdeka.com, Kamis (8/10).

Mendengar pengakuan A, Yessi mencoba mencari tahu kebenarannya. Hingga akhirnya dia bertemu seorang anak yang mengaku melihat A dianiaya oleh teman sekolahnya.

Sayangnya, saat Yessi mengadukan hal itu ke pihak sekolah, mereka tidak mengakui adanya penganiayaan terhadap A. Bahkan pihak sekolah mengatakan aksi tersebut tidak terekam di CCTV. Namun, Yessi tetap merasa janggal dengan pengakuan kepala sekolah mengenai kasus anaknya itu.

"Mereka mengatakan tidak ada rekaman CCTV pemukulan anak saya. Dan mereka melihat anak saya bermain dengan teman lain dan pelaku main dengan yang lain. Enggak ada lima menit mereka bilang hari itu pelaku tidak masuk sekolah. Saya sendiri tidak dikasih liat rekam CCTV mereka hanya bilang sudah di save di flash disc. Lalu saya bilang ada saksi mata. Awalnya mereka keberatan untuk menemui saksi mata dengan berbagai alasan, kemudian saya telepon saksi mata dan saya speaker terlihat jelas mereka lemas dan ketakutan mendengar pernyataan saksi mata. Lantas saya bilang ayo kita ke rumah sakit lakukan visum. Mereka menolak dan bilang jangan seenaknya ibu sendiri semua keputusan bukan di tangan ibu tapi di tangan yayasan," imbuh Yessi.

Setelah melakukan visum, akhirnya A diketahui terkena infeksi saluran kencing dan ada nanah di saluran kencingnya. Bahkan psikolog pun mengatakan A mengalami trauma yang sangat tinggi dan butuh waktu untuk pemulihannya.

"Anak saya setiap tidur berteriak, menangis ketakutan dan kesakitan. Anak saya berubah menjadi anak yang pemurung. Sementara si pelaku bebas menikmati hari-harinya di sekolah, sementara anak saya di rumah sakit berjuang menghadapi tekanan psikisnya. Saat ini anak saya masih dalam perawatan seorang psikolog mengingat trauma yang dia dapatkan atas pemukulan tersebut masih menghantui setiap mimpi-mimpinya. Imbasnya setiap dia bermimpi pemukulan itu anak saya tidak mau makan dan minum sampai anak saya membicarakan kematian, membicarakan bagaimana seandainya dia melompat dari gedung. Anak saya juga anak bangsa yang memerlukan Perlindungan Hukum Negeri ini bukan hanya si pelaku yang dilindungi karena masih anak-anak," pungkasnya.

Saat ini Yessi masih memposting keadaan A di akun Facebooknya hingga hari ini. Sejumlah komentar simpati pun banyak ditujukan ke Yessi. [did]

Baca juga:
Siswa SMK bacok 2 ibu guru dikeluarkan dari sekolahan
Aniaya kakeknya saat rebutan batu akik, Rifan dipenjara 4 bulan

Parahnya kelakuan pelajar zaman sekarang, guru saja dibacok

Nurdiansyah balas dendam hajar tukang becak dengan batang besi

Bolos sekolah 3 hari, bocah kelas IV dipukul ayah tiri pakai gesper

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini