Merayakan tahun baru dengan terompet turutu di Banyumas
Merdeka.com - Perayaan pergantian tahun yang sudah di depan mata, bagi sebagian besar warga dunia tidak bisa dilepaskan dari pesta kembang api dan terompet. Namun beberapa waktu terakhir, terompet tahun baru menjadi polemik lantaran kertas yang digunakan sebagai bahan dasarnya menggunakan cover Al-Quran.
Terlepas dari bahan pembuat terompet tahun baru, tampaknya tak perlu ada polemik jika mengikuti tradisi Warga Desa Karanglo Banyumas, Jawa Tengah. Warga dari berbagai kalangan usia di desa ini kerap membuat terompet unik. Mereka memilih membuat terompet dari daun kelapa yang murah dan mudah ditemukan di lingkungan mereka.
Terompet daun kelapa yang biasa disebut turutu ini memiliki suara yang lebih nyaring dibanding terompet kertas biasa. Seorang warga Desa Karanglo, Nitarsih mengatakan, tradisi membuat turutu sudah lama diturunkan dari orang tua mereka. Diakuinya, dengan membuat turutu dapat menghemat pengeluaran dan menyenangkan anak.
"Sengaja memang membuat terompet dari janur. Karena mudah dicari dan yang jelas tidak usah beli. Saya membuat terompet ini supaya anak anak tidak membuang biaya jadi bisa menghemat," ujar Nitarsih, Kamis (31/12).
Menurutnya, membuat terompet turutu tidak rumit, bahkan terbilang mudah. Warga cukup mengambil daun kelapa muda atau janur serta daun pisang yang ada di sekitar rumah mereka. Sedangkan, untuk menghasilkan bunyi yang nyaring, mereka hanya membutuhkan sedotan plastik yang digunting. "Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat turutu bahkan bisa dibuat sendiri oleh anak-anak," katanya.
Ia melanjutkan, setelah batang sedotan digunting, kemudian daun kelapa dililit sedemikian rupa. Fungsi lilitan daun kelapa dan daun pisang untuk menghasilkan suara yang nyaring. "Untuk satu membuat satu turutu dibutuhkan lima hingga 10 daun kelapa. Kalau mau buat yang besar, bisa sampai 130 janur," ucapnya.
Sedangkan, lanjutnya, untuk batang sedotan dibutuhkan satu batang dengan ukuran 5 cm. Tak perlu menunggu waktu berjam-jam, dalam hitungan menit, terompet turutu dengan berbagai ukuran langsung bisa digunakan. Seorang anak di Desa Karanglo, Iswoyo Jati mengaku senang dengan terompet turutu. "Senang bisa merayakan tahun baru dengan turut, karena kalau beli terompet harganya mahal, jadinya uangnya bisa dihemat," ujarnya.
Berbagai model turutu karya warga Desa Karanglo Kecamatan Cilongok ini pun dalam berbagai rupa mulai dari yang kecil hingga besar diameternya. Seni tradisi ini hingga kini masih bertahan diturunkan kepada keturunan mereka dan bahkan selalu menghiasi perayaan pergantian tahun di desa tersebut. (mdk/rhm)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya