Menunggu Malam di Pelataran Pengungsian Pencari Suaka
Merdeka.com - Sekelompok lelaki berdiri di pelataran eks Kodim Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (4/9. Mereka bercengkrama. Sambil melepas penat setelah seharian berada dalam gedung penampungan. Sedangkan, kaum perempuan duduk terpisah di teras gedung.
Anak-anak berlarian, saling bercanda. Sebagian lain sekadar duduk bersama sang ibu, menikmati semilir angin sembari menunggu kantuk datang.
Suasana terasa berbeda di dalam gedung eks Kodim Kalideres, tempat penampungan sementara bagi pencari suaka. Tangisan balita merengek kepanasan, terdengar hingga keluar ruangan. Sang ibu hanya bisa menenangkan seadanya. Mengibaskan kain sembari membaringkan si buah hati di sampingnya.
"Banyak orang tidur di luar, karena di luar sedikit dingin," ungkap pengungsi asal Afghanistan, berinisial B yang ditemui Merdeka pada Rabu (4/9).
Layaknya gedung tidak terpakai, eks Kodim Kalideres tidak menyediakan listrik dan air bersih bagi para pengungsi. Untuk memenuhi kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK), para pengungsi harus menumpang ke pertokoan di seberang jalan. Sekadar untuk merasakan air bersih.
Umumnya, mereka memilih pergi minimarket terdekat untuk sekadar mandi dan mengambil air bersih. Namun, tak jarang pula pengungsi memakai toilet di Terminal Kalideres. Jarak antara penampungan dan terminal lebih kurang 2 kilometer. Mereka tempuh dengan berjalan kaki.
"Kita enggak mau keluar banyak uang," ucap B yang enggan disebutkan nama lengkapnya.
Satu bulan terakhir listrik dan air di penampungan tersebut dihentikan. Pria 28 tahun itu bercerita, hanya ada satu toilet yang bisa digunakan di dalam penampungan. Itu pun tidak dilengkapi pasokan air bersih.
Hal senada diungkapkan Ali. Ditemui di tempat berbeda, Ali menceritakan kesulitannya memperoleh air bersih. Ali harus mencari tempat lain untuk keperluan MCK.
"Sangat sulit dan berat untuk kami, tapi tidak ada pilihan lain, karena kami tidak punya pendapatan," jelas Ali dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
Selain kesulitan air bersih, tidak adanya pasokan listrik juga menjadi masalah lain bagi mereka. Ali menceritakan, kehidupan di dalam gedung gelap dan pengap. Tidak ada kipas apalagi pendingin ruangan. Para pengungsi hanya bisa berbaring di dalam tenda-tenda kemah yang mereka bawa. Panas terasa.
"Banyak nyamuk!" kata Ali dalam bahasa Indonesia.
Sesekali dia dan rekannya berjalan di sekitar gedung, mencari udara segar. Namun tidak boleh terlalu lama. Setelah jam 10 malam, mereka wajib kembali ke pengungsian. Kembali berdesakan dengan ratusan pengungsi lain.
"Sangat buruk, malam tanpa listrik," imbuhnya.
Ketika malam tiba, satu-satunya cahaya yang bisa mereka andalkan hanyalah lampu dari ponsel mereka. Biasanya, para pengungsi akan mengisi baterai ponsel mereka di warung atau toko di depan penampungan. Untuk bekal penerangan di malam hari.
"Aku setiap hari charge HP di sini. Tanya ibu (penjual di depan gedung). Kemana-mana mau pergi, bawa charger," ungkap B dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar.
Dalam gedung dua lantai itu, para pengungsi dipisahkan dalam ratusan tenda. Ada pula yang memilih menggelar tenda di luar gedung, untuk menjaring lebih banyak angin.
Berdasarkan keterangan para pengungsi yang kami temui, saat ini eks Kodim Kalideres masih menampung 600 hingga 800 orang. Para pengungsi berasal dari sejumlah negara yang tengah terlibat konflik, seperti Afghanistan, Pakistan, Sudan, dan Somalia.
Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya