Jakarta, 9 Januari – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti urgensi pembangunan konsep terintegrasi dalam distribusi film nasional. Hal ini disampaikan dalam sebuah diskusi di Jakarta, yang membahas bagaimana film dapat menjangkau audiens lebih luas di seluruh Indonesia.
Fadli Zon mengemukakan bahwa setelah film selesai ditayangkan di pusat atau provinsi, distribusi selanjutnya harus dilanjutkan ke daerah-daerah di bawahnya. Konsep ini perlu dikaji lebih lanjut bersama Direktorat Film, Musik, dan Seni di bawah Kementerian Kebudayaan untuk memastikan implementasi yang efektif.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Persatuan Film Keliling Indonesia (PERFIKI), Y. Endiarto, memperkenalkan inisiatif Bioskop Rakyat (BIOSRA). Inisiatif ini bertujuan menghadirkan bioskop permanen di setiap kecamatan dengan harga tiket yang terjangkau, sekitar Rp10.000, untuk film-film terbaru.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Konsep Distribusi Film Terintegrasi
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa konsep distribusi film yang terintegrasi menjadi kunci untuk memperluas jangkauan perfilman nasional. Ia menekankan perlunya mekanisme yang memungkinkan film-film dapat terus ditayangkan dari pusat hingga ke daerah-daerah terpencil.
Pengembangan konsep ini diharapkan dapat melibatkan kerja sama erat dengan Direktorat Film, Musik, dan Seni di bawah Kementerian Kebudayaan. Tujuannya adalah untuk merumuskan strategi yang komprehensif agar film-film Indonesia tidak hanya berpusat di kota-kota besar.
Fadli Zon juga menyoroti potensi pengembangan layar bioskop di tingkat kecamatan, mengingat konsentrasi bioskop saat ini masih didominasi di wilayah kabupaten dan kota. Inisiatif ini dinilai penting untuk pemerataan akses hiburan dan edukasi melalui film.
Advertisement
Pemerataan akses tontonan film di seluruh pelosok negeri akan mendukung pertumbuhan industri kreatif dan kebudayaan. Dengan demikian, masyarakat di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati karya-karya perfilman nasional dan internasional.
Advertisement
Bioskop Rakyat (BIOSRA): Solusi Pemerataan Akses
Inisiatif Bioskop Rakyat (BIOSRA) yang digagas oleh PERFIKI menawarkan solusi konkret untuk permasalahan distribusi film. BIOSRA dirancang sebagai bioskop permanen yang akan hadir di setiap kecamatan, bukan sekadar layar tancap.
Y. Endiarto menjelaskan bahwa BIOSRA akan menayangkan film-film terbaru dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yakni sekitar Rp10.000. Hal ini bertujuan untuk menghadirkan keadilan tontonan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Selain sebagai tempat pemutaran film, BIOSRA juga dirancang sebagai bangunan dua lantai berukuran 10x30 meter. Lantai atas akan berfungsi sebagai bioskop dan multifunction hall, sementara lantai bawah akan dimanfaatkan sebagai ruang untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal non-franchise.
Advertisement
Model bisnis BIOSRA melibatkan PERFIKI sebagai manajemen film, sementara aset sepenuhnya akan dimiliki oleh pengusaha lokal. Jika belum ada investor lokal, PERFIKI siap mengambil peran awal dengan dukungan pemerintah pusat, menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan inisiatif ini.
Advertisement
Kolaborasi dan Potensi Pengembangan Talenta Lokal
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik gagasan BIOSRA, menilai inisiatif ini sebagai langkah menarik dan patut dikembangkan. Ia menegaskan dukungan pemerintah terhadap peningkatan jumlah layar dan bioskop di seluruh Indonesia.
Diskusi tersebut juga menyinggung potensi pemanfaatan ruang dan aset daerah yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk mendukung penyelenggaraan BIOSRA. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, dan swasta diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek ini.
PERFIKI berencana membangun pilot project BIOSRA di Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, yang dijadwalkan akan dimulai setelah Lebaran tahun ini. Proyek percontohan ini akan menjadi model bagi pengembangan BIOSRA di kecamatan-kecamatan lain.
Advertisement
Lebih dari sekadar pemutaran film, BIOSRA juga dirancang untuk menjadi wadah bagi lahirnya talenta perfilman lokal melalui audisi film daerah. Inisiatif ini diharapkan dapat memunculkan aktor, kru, serta rumah produksi lokal, sekaligus menghidupkan kembali semangat perfilman di daerah, menggerakkan sirkulasi ekonomi dari kecamatan ke kota.
Sumber: AntaraNews