Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menargetkan sebanyak 20.000 hingga 30.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) dapat beroperasi pada Agustus 2026. Target tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pengembangan koperasi di seluruh Indonesia.
Hal itu disampaikan Ferry saat menghadiri acara "Malam Budaya Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Bung Karno" di Sanur, Denpasar, Bali, Jumat (5/6) malam.
Menurut Ferry, Kementerian Koperasi saat ini mengemban tugas besar, yakni membina koperasi yang telah ada sekaligus membangun dan mengoperasikan Kopdes Merah Putih di berbagai daerah.
"Yang sampai dengan hari ini, sudah ada 11 ribuan bangunan fisik, gudang gede-gede, dan alat kelengkapan yang sudah selesai dibangun dan sudah kemarin dilaunching oleh Bapak Presiden di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur," kata Ferry.
Ia menjelaskan, hingga saat ini terdapat 1.061 Kopdes Merah Putih yang telah beroperasi. Sementara itu, sekitar 23 ribu koperasi lainnya masih dalam tahap pembangunan.
"Ada 1.061 koperasi desa/kelurahan Merah Putih yang sudah dioperasasikan dan yang sedang dibangun sekarang jumlah 23 ribu. Diharapkan bulan Agustus 2026, kita bisa me-launching 30 ribuan atau minimal seperti yang ditargetkan oleh Bapak Presiden, 20 ribu Koperasi desa kelurahan Merah Putih bisa dioperasikan," ujarnya.
Advertisement
Dorong Industri Busana Nasional Lewat Koperasi
Dalam kesempatan yang sama, Ferry juga berharap koperasi dapat menjadi motor penggerak industri busana nasional, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Menurutnya, koperasi memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku tekstil maupun produk pakaian jadi.
Acara tersebut juga dirangkaikan dengan peluncuran Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia dan pelantikan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Bali.
Ferry mengucapkan selamat kepada Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, beserta seluruh jajaran pengurus yang baru dikukuhkan.
Ia menegaskan bahwa koperasi seharusnya tidak hanya bergerak di bidang perdagangan, tetapi juga di sektor produksi, distribusi, industri, hingga pembiayaan. Dalam konteks industri fesyen, Ferry membayangkan seluruh rantai produksi dapat dilakukan di dalam negeri melalui koperasi.
"Dan tadi kita lihat (fashion show APPMI Bali) luar biasa. Dan, lebih jauh daripada itu juga, mungkin sekarang bahan kapas-nya, kalau bisa kita tanam sendiri di tanah-tanah di Indonesia. Dan itu sebenarnya harapannya (dari) Koperasi Nasional Laskar Juang ini," ujarnya.
"Saya mendorong sekiranya bisa melakukan inisiatif pembukaan lahan perkebunan kapas-kapas dan juga produksi kain, garmen dan seterusnya," lanjut Ferry.
Menurutnya, koperasi dapat berperan mulai dari pengelolaan kebun kapas, produksi benang dan kain, hingga industri garmen. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan impor bahan baku tekstil serta membendung masuknya pakaian impor dan pakaian bekas dari luar negeri.
"Kita berhadapan dengan maraknya kain impor yang masuk ke Indonesia, pakaian impor, pakaian bekas impor juga masuk ke Indonesia, itulah perjuangan yang tidak ringan dan perjuangan menegakkan ekonomi, menegakkan koperasi harus berbarengan dengan perjuangan untuk kita mengurangi impor pakaian, pakaian bekas, kemudian bahan baku benang, kapas yang dari impor," jelasnya.
Ferry menegaskan bahwa upaya membangun kemandirian koperasi sejalan dengan semangat ekonomi Pancasila yang menekankan produksi nasional dan kesejahteraan bersama.
"Dan bukan hanya penggunaan pakaian tradisional. Tetapi juga kita harus bisa mampu memproduksi bahan kain, benang, dan perkebunan kapas-nya dilakukan, diproduksi oleh kita sendiri bisa melalui badan usaha koperasi dan kami Kementrian Koperasi akan mendorong sekiranya itu bisa dilakukan," ujarnya.
Advertisement
Rieke: Koperasi Adalah Gerakan Ekonomi Rakyat
Sementara itu, Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, menegaskan bahwa peluncuran koperasi yang dipimpinnya bukan sekadar pembentukan badan usaha, melainkan sebuah gerakan untuk memperkuat ekonomi rakyat.
"Hari ini adalah peluncuran sebuah gerakan. Sebuah gerakan yang berangkat dari keyakinan bahwa rakyat Indonesia harus menjadi subjek pembangunan ekonomi, bukan sekedar penonton di negeri sendiri," kata Rieke.
Ia mengatakan gerakan tersebut merupakan upaya menghidupkan kembali cita-cita ekonomi kerakyatan yang diwariskan Presiden pertama RI, Soekarno.
"Bung Karno menegaskan, bahwa koperasi bukan hanya organisasi ekonomi, koperasi adalah sekolah gotong royong, sekolah solidaritas, sekolah persaudaraan, dan sekolah kemanusiaan," ujarnya.
Menurut Rieke, koperasi harus menjadi alat perjuangan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan berkepribadian Indonesia.
"Atas dasar itulah, Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia didirikan. Koperasi ini lahir bukan untuk memperkaya segelintir orang, koperasi ini lahir untuk memperkuat rakyat, koperasi ini lahir untuk membangun kekuatan ekonomi yang bertumpu pada gotong royong, kepemilikan bersama, dan kesejahteraan bersama," tegasnya.