Menko Polhukam ungkap bantuan-bantuan yang dibutuhkan dari negara asing

Senin, 1 Oktober 2018 19:51 Reporter : Merdeka
Menko Polhukam ungkap bantuan-bantuan yang dibutuhkan dari negara asing Pencarian korban gempa di Palu. ©handout/Basarnas Balikpapan

Merdeka.com - Menko Polhukam Wiranto, mengatakan, sudah ada 18 negara siap membantu Indonesia menangani Palu dan Donggala, pasca diterjang gempa bumi dan tsunami. Dia menuturkan, bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan.

"Tentu bantuan-bantuan itu kita arahkan supaya tepat barang, tepat kebutuhan, dan tepat waktu. Kemudian kita bisa perinci bantuan itu, bisa berwujud barang, alat, keahlian tertentu. Yang penting time framenya tepat, sehingga saat dibutuhkan nilai guna manfaatnya lebih," ucap Wiranto di kantornya, Jakarta, Senin (1/10).

Dia mengungkapkan, saat ini yang paling dibutuhkan adalah bantuan tanggap darurat yang dibutuhkan masyarakat.

"Beberapa kebutuhan bantuan segera yang bisa kita terima, pertama adalah berupa alat angkut udara. Kita tahu saat ini atau saat bencana terjadi itu PLN mati, kemudian BBM langka, komunikasi seluler mati, beberapa jalan darat terputus, sehingga yang paling efektif adalah bantuan cepat dari udara," ungkap Wiranto.

Namun, dirinya tahu, alat angkut udara yang besar masih sulit diakses. Maka yang bisa mendapat hanya jenis Lockheed Martin C-130 Hercules.

"Yang bisa mendapat adalah jenis C-130 Hercules. Karena panjang landasan 2.500 itu ujungnya retak sekitar 200 meter. Sehingga landas pacu yang mungkin untuk dapat didarati itu hanya sepanjang 2.000 meter. Kalau pesawat Boeing pun itu tipe 737 seri 400-500. Yang seri 800 sampai seri 900 enggak mungkin bisa mendarat. Tapi pesawat C 130 bisa. Oleh karena itu, kami harapkan bantuan dari alat angkut udara C 130," jelas Wiranto.

Bantuan Lain

Selain itu, masih kata dia, tenda-tenda masih cukup banyak dibutuhkan. Kemudian sarana untuk air bersih.

"Tadi dilaporkan dari depan bahwa air bersih memang sulit didapat di sana. Sumber-sumber air bersih enggak banyak. Sumur pompa membutuhkan listrik, dan listrik pasokannya sangat rendah sekarang. Sehingga akan diminta juga bantuan genset-genset dari negara-negara donor," jelas Wiranto.

Bukan hanya itu, Rumah Sakit portabel atau yang di lapangan juga dibutuhkan. Lengkap dengan tenaga mediknya.

"Kemudian juga fogging. Fogging ini ada satu jenis fogging untuk menetralisir kemungkinan adalah jenazah yang terlambat dikubur, yang bisa menimbulkan penyakit. Ini peristiwa di Aceh jangan sampai terulang ya. Dulu banyak mayat yang terlambat terkubur dan menyebabkan epidemi tertentu yang bisa menyerang manusia. Ini kita butuh," pungkasnya.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Sumber: Liputan6.com [rnd]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini