Mengenang Setahun Tragedi Bom di Surabaya

Senin, 13 Mei 2019 23:37 Reporter : Erwin Yohanes
Mengenang Setahun Tragedi Bom di Surabaya Ipda Ahmad. ©2019 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Tepat setahun sudah peristiwa memilukan itu mengoyak hati warga Surabaya. Peristiwa bom bunuh diri menimpa beberapa gereja waktu itu tak hanya membunuh pelaku dan korban warga Surabaya lainnya, namun juga membawa luka fisik dan trauma yang mendalam bagi yang masih hidup hingga kini.

Setidaknya, perasaan ini lah yang sempat mendera Ipda Ahmad Nurhadi, salah satu anggota Polri yang terluka akibat peristiwa bom yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB).

Akibat kejadian itu, kini kedua matanya tak lagi bisa melihat indahnya dunia. Bahkan ia juga harus mengenakan kursi roda ketika hendak pergi ke mana-mana. Beruntung ia memiliki istri Nunung Ifana dan teman yang masih setia menemaninya.

Dalam memorinya, tanggal 13 Mei adalah hari terkelam dalam sejarah hidupnya. Saat itu, dengan pakaian dinas, ia sedang menunaikan tugas sebagai anggota Polri.

"Saya waktu itu sedang ada di pos bagian selatan pintu masuk gereja. Di depan pos itu ada meja kursi," kenangnya, Senin (13/5).

Ia menambahkan, tidak ada yang menyangka jika pada hari itu akan terjadi peristiwa besar yang bakal mengubah hidup banyak orang, termasuk dirinya. Sebab, sebagaimana biasanya, ia pun melakukan pengamanan rutin.

"Tanggal 13 Mei adalah peristiwa kelam bagi Surabaya, siapapun tidak menginginkan hal itu," ujarnya lirih.

Tak ada tanda-tanda bakal ada peristiwa besar. Ipda Ahmad yang tengah berjaga saat itu, tak sempat melihat pelaku bom bunuh diri masuk dan langsung meledakkan diri tak jauh dari tempatnya berada. "Saat pelaku masuk, kita sedang duduk dan langsung meledak, kita enggak ada yang menyangka," katanya.

Namun, kenangan pahit itu telah diikhlaskannya. Ia bahkan mengaku telah memaafkan kejadian yang merenggut kedua matanya itu. Ia bahkan berpesan pada masyarakat, agar tetap waspada dengan mengingat kejadian itu.

"Tetap waspada di lingkungan masing-masing biar kejadian itu tidak terjadi lagi. Saya sudah ikhlas dan memaafkan. Biar yang maha kuasa yang mengadili," pungkasnya.

Ipda Ahmad merupakan satu dari sekian korban peristiwa bom di gereja SMTB. Untuk memperingati satu tahun peristiwa kelam tersebut, kini ratusan orang berkumpul dalam momentum satu tahun peristiwa bom di gereja SMTB.

Ratusan orang dari berbagai ras, suku, maupun agama, semuanya duduk bersama saling tegur sapa. Ratusan orang tersebut terdiri dari beberapa elemen masyarakat yang turut memperingati peristiwa tersebut.

Kegiatan peringatan satu tahun peristiwa bom yang dipusatkan di Gereja SMTB, Ngagel Surabaya ini pun diawali dengan diskusi dan launching buku.

Kemudian, disusul dengan buka bersama yang disediakan oleh pihak gereja bagi umat muslim yang menjalankan puasa ramadan. Suasana kerukunan terjalin dan bersatu dalam kegiatan bertajuk pentas seni lintas agama.

Pada 13 Mei 2018 lalu, Surabaya digoncang bom. Satu keluarga yang dipimpin Dita Oepriarto dari Jamaah Ansharut Daulah melakukan serangan kepada tiga gereja di Surabaya.

Teror bom pertama diledakkan di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), Ngagel; bom kedua meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Diponegoro; dan bom mobil yang dikendarai Dita meledak di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Keesokan harinya, Senin (14/5), satu keluarga dengan dua sepeda motor diketahui meledakkan diri di penjagaan Mapolrestabes Surabaya. [gil]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini