Mengenali Tanda Awal Pergerakan Tanah hingga Terjadi Longsor

Jumat, 2 Desember 2022 04:02 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Mengenali Tanda Awal Pergerakan Tanah hingga Terjadi Longsor Pencarian Korban Longsor Cugenang. ©2022 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat yang bermukim di daerah rawan longsor untuk mewaspadai curah hujan tinggi karena berpotensi menyebabkan gerakan tanah.

Koordinator Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG Sumaryono mengatakan masyarakat perlu mengenali tanda awal gerakan tanah, semisal munculnya retakan berbentuk tapal kuda dan jika melihat tanda itu harus segera ditutup.

"Kemunculan rembesan air yang disertai lumpur juga perlu diwaspadai karena sebagai tanda air sudah masuk ke dalam zona lemah lereng," ujar Sumaryono saat dihubungi di Jakarta, Kamis (1/2), dikutip Antara.

Sumaryono mengimbau masyarakat yang bermukim di bantaran sungai agar waspada terhadap banjir bandang, terutama bila ada pembendungan sungai oleh material tanah, bebatuan, dan kayu.

Dia melanjutkan, jika masyarakat melihat kondisi tersebut, maka material yang membendung sungai mesti dibersihkan agar aliran air lancar dan tidak menyebabkan banjir bandang.

peta prakiraan wilayah terjadi pergerakan tanah
Antara

2 dari 2 halaman

Tanda Awal Pergerakan Tanah

Setiap bulan, PVMBG selalu merilis peta prakiraan wilayah potensi terjadinya gerakan tanah di seluruh Indonesia yang dapat diakses melalui laman resmi https://vsi.esdm.go.id/. Pada peta itu tercantum keterangan berwarna hijau untuk daerah dengan potensi gerakan tanah rendah.

Kemudian, keterangan berwarna kuning adalah daerah dengan potensi gerakan tanah menengah dan keterangan berwarna ungu mencakup daerah yang berpotensi tinggi terjadi gerakan tanah.

Di Indonesia, jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai adalah hasil letusan gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur.

Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan atau pegunungan dengan kemiringan hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor saat musim hujan dengan curah tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.

Terdapat enam jenis tanah longsor, yaitu longsoran translasi, longsoran rotasi, pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan.

Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan, longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan. [gil]

Baca juga:
CEK FAKTA: Video Banjir dan Tanah Longsor Ini Bukan Terjadi di Pati
Hadapi Potensi Cuaca Ekstrem, Tasikmalaya Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi
Dahsyatnya Gelombang Longsor di Italia, Mobil-Mobil Bergelimpangan Hingga ke Laut
CEK FAKTA: Video Tanah Longsor Ini Bukan di Cianjur
Pasca Tanah Longsor di Mandailing Natal, PLN Gerak Cepat Pulihkan Gangguan Listrik
Jalan Perbatasan Kota Batu-Malang Longsor, Kendaraan Roda Empat Dilarang Melintas

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini