Mengenal perempuan bersepatu roda tercepat dari Karawang

Kamis, 22 September 2016 20:27 Reporter : Iman Herdiana
Mengenal perempuan bersepatu roda tercepat dari Karawang Ilustrasi atlet sepatu roda. ©Antara

Merdeka.com - Sheilla Mafitra Dewi menjadi atlet perempuan sepatu roda penyumbang emas pertama bagi tim sepatu roda Jawa Barat. Dia memiliki catatan paling cepat dalam pertandingan sepatu roda putri 300 meter Individual Time Trial (ITT) dengan waktu 28 detik.

"Saya puas," ucap perempuan kelahiran Karawang 20 November 1995, saat berbincang di arena sepatu roda GOR Saparua, Bandung, Kamis (22/9).

Raihan emas tersebut meningkatkan prestasinya dalam ajang kompetisi sepatu roda nasional. Pada PON Riau 2012 lalu, Sheilla juga berhasil menyabet medali emas, namun waktu itu dia main beregu.

Pada PON kali ini dia mengikuti dua kategori, yakni 300 dan 500 meter ITT. Kategori tersebut disebut juga kategori sprint karena jarak lintasan yang pendek serta memerlukan kecepatan tinggi.

Sejak awal menggemari sepatu roda dia mengaku lebih menyukai sprint. "karena tidak terlalu jauh. Dan dari awal suka sepatu roda saya latihan sprint terus," jelasnya.

Dia mulai menggemari olahraga sepatu roda sejak SD usia 10 tahun, sekitar 2005. Awalnya dia sering melihat latihan sepatu roda di kampung halamannya di lapangan Karang Pawitan, Kabupaten Karawang.

Dari situ dia meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan sepatu roda. "Sejak awal keluarga mendukung, selalu memprioritaskan," ujarnya.

Berkat dukungan orangtua pula dia rajin berlatih. Setahun kemudian dia mengikuti Kejurnas Sepatu Roda di Sidoarjo dan menjadi juara. Selanjutnya beragam event sepatu roda pernah dia ikuti.

Dia mengaku ketagihan untuk mengikuti kejuaraan demi kejuaraan. Ada sensasi tersendiri saat meluncur di tengah arena pertandingan.

"Seru, jadi ingin terus ikut," katanya.

Kegemarannya bersepatu roda mengantarkannya ke event internasional di New Zelan pada 2012. Saat itu dia berhasil meraih dua medali emas.

Kini setelah mencorong di PON XIX/2016 Jabar, dia berharap bisa kembali mengukir prestasi di pentas internasional. Menurutnya meski sepatu roda belum menjadi olahraga popular, namun peluang untuk berprestasi masih terbuka lebar.

Peluang tersebut antara lain mengikuti event-event internasional seperti China Open dan kejuaraan yang biasa digelar negara-negara yang memiliki perhatian lebih pada olahraga sepatu roda.

Dia juga berharap sepatu roda menjadi cabor yang turut dipertandingkan di Sea Games, Asean Games hingga Olimpiade.

Kini, tugasnya sebagai atlet PON telah selesai. Rencana jangka pendeknya adalah menyelesaikan kuliah yang nyaris berantakan gara-gara persiapan mengikuti PON.

"Target tahun depan lulus kuliah. Jadi setelah PON saya ingin fokus beresin kuliah dulu," kata mahasiswi jurusan Hubungan Internasional Universitas Pasundan, Bandung.

Dia berharap, kampusnya mau memberi dispensasi. Sebab banyak atlet PON yang statusnya masih kuliah.

"Saya harap dapat nilai plus, jangan C-C terus. Para dosen juga harus memahami mahasiswanya yang menjadi atlet," ucapnya. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. PON XIX Di Jawa Barat 2016
  2. Bandung
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini