Mengenal alat musik Erhu yang sempat dilarang Orde Baru
Merdeka.com - Erhu merupakan alat musik asal Tiongkok. Sepintas bentuknya seperti rebab (alat musik tradisional Jawa) yang dimainkan dengan digesek.
Saat ini tak banyak orang yang bisa memainkannya. Salah satu orang yang bisa memainkan alat musik tradisional asal Tiongkok ini adalah Budi Christianto.
Budi menuturkan Erhu adalah alat musik tradisional yang dulunya dimainkan oleh suku Hu yang merupakan suku pengembara. Kemudian ditiru oleh orang Han. Hingga menjadi seperti saat ini.
"Erhu sendiri memiliki arti Er yang berarti dua. Ini karena alat musik Erhu menggunakan dua senar. Sedangkan Hu adalah nama suku pengembara yang pertama kali membuat atau mempopulerkannya," ujar Budi saat ditemui diperayaan Imlek di Bakpia Djava, kemarin.
Erhu sendiri terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah neck atau leher. Bagian ini biasanya terbuat dari kayu. Kemudian pada bagian ini memiliki dua senar. Senar inilah yang biasanya digesek dan menghasilkan suara. Dua senar yang terpasang ini bernada dasar D dan A.
Bagian kedua adalah mimbran. Bagian ini biasanya terbuat dari kulit kuda. Tetapi bisa juga menggunakan kulit ular, biasanya yang digunakan adalah kulit ular piton.
Sedangkan bagian ketiga adalah alat gesek. Alat gesek ini menggunakan ekor kuda sebagai bagian utamanya. Alat ini nantinya digunakan untuk menggesek dua buah senar yang ada di Erhu.
Belajar memainkan Erhu sudah dilakukan oleh Budi sejak umur 10 tahun. Pria berumur 64 tahun ini pertama kali belajar dari engkong (kakeknya). Setelahnya Budi sempat memelajari Erhu di Tiongkok.
"Awalnya saya belajar dari keluarga. Kemudian saya belajar sampai Tiongkok. Tepatnya di Sian dan Shanghai," terang Budi.

Sebagai seorang pemain alat musik Erhu, Budi telah merasakan berbagai suka duka. Salah satunya adalah Budi harus sembunyi-sembunyi untuk belajar dan memainkan Erhu. Pasalnya saat pemerintahan Presiden Soeharto segala hal yang berbau budaya Tionghoa dilarang.
"Dulu setelah 65 ada banyak hal yang terjadi. Kita sedikit terkekang (dalam berbudaya Tionghoa). Dulu enggak berani main di tempat umum. Mainin Erhunya di rumah. Itupun rumahnya harus ditutup. Kami takut dipersalahkan. Bisa kena urusan nanti," ungkap Budi.
Budi menyampaikan bahwa kegiatannya bermain dan belajar Erhu murni masalah berkesenian dan berkebudayaan. Tak ada motif politik apapun sebagaimana yang ditakutkan oleh penguasa di era Orde Baru.
"Saya waktu itu tidak tahu politik. Saya cuma pengen belajar main Erhu meneruskan leluhur saya. Enggak paham politik apa-apa. Tapi karena takut kena urusan ya akhirnya belajar maininnya sembunyi-sembunyi. Latihan di rumah orangtua yang bisa Erhu. Tapi ya sembunyi-sembunyi," tutur Budi.
Budi menceritakan kondisi berubah saat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke 4 menggantikan Habibie. Di masa pemerintahan Gus Dur inilah perayaan Tahun Baru China atau Imlek boleh dirayakan. Semenjak itu alat musik Erhu mulai diperbolehkan tampil di depan umum.
"Ya bersyukur akhirnya Erhu boleh dimainkan dan tampil lagi. Sehingga saat ini banyak orang yang belajar Erhu," tutup Budi.
(mdk/did)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya