Mengaku operasi yustisi, petugas datangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya

Jumat, 6 Juli 2018 23:09 Reporter : Wisnoe Moerti, Muhamad Agil Aliansyah
Mengaku operasi yustisi, petugas datangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya Operasi yustisi di asrama mahasiswa Papua. ©istimewa

Merdeka.com - Petugas gabungan polisi, TNI dan Satpol PP mendatangi asrama mahasiswa Papua terletak di Jalan Kalasan Nomor 10, Pacar Keling, Tambaksari, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (6/7) malam. Kedatangan petugas gabungan ini saat mahasiswa tengah menggelar diskusi mingguan di lokasi tersebut.

"Jumlah aparat saya rasa pada saat kejadian terdiri dari teman-teman Satpol PP, TNI, kepolisian. Dari kepolisian ada yang membawa laras panjang," kata pengacara publik LBH Surabaya, Mohamad Soleh, saat dihubungi merdeka.com.

Saat kejadian dia mengaku tengah mengisi acara tersebut. Dia menyebut petugas yang diperkirakan berjumlah seratus orang berusaha masuk asrama.

"Sekitar jam 7 sampai 8 malam mulai datang aparat dari TNI, Polri, Satpol PP petugas kecamatan. Salah satu petugas berpakaian preman," ujar dia.

Dia menghampiri salah satu petugas kecamatan dan menanyakan tujuan mereka. Petugas tersebut mengaku tengah melakukan operasi yustisi.

"Petugas mengakunya operasi yustisi. Saya sempat nanya mana suratnya? kenapa bawa aparat? kenapa hanya teman-teman Papua," kata dia.

Namun ketika berdialog dengan petugas kecamatan itu dia mengaku dibawa oleh seseorang diduga anggota polisi berpakaian preman.

"Ketika ngobrol saya diseret sampai kancing juga lepas dan mau dimasukkan ke salah satu mobil aparat. Nah karena mahasiswa teriak saya langsung dilepas," ucapnya.

Sementara itu, Camat Tambaksari Ridwan Mubarun mengatakan, kedatangan pasukan gabungan ini tujuannya untuk operasi yustisi. Namun ada penolakan dari mahasiswa.

"Jadi kita ketika kita mau pendataan yustisi. Ada penolakan daroi mahasiswa. padahal yg kita datangi asrama papua. Mereka menolak dengan alasan macam-macam. Kita sudah sampaikan bahwa ini operasi yustisi dan ini sudah kita lakukan di mana-mana," jelasnya.

petugas mencoba melakukan negosiasi untuk kelancaran operasi yustisi. Namun tidak membuahkan hasil.

"Kita negosiasi tetapi tetap buntu. Ya kita terpaksa harus mundur."

Mahasiswa menginginkan agar dilakukan audiensi. Namun petugas tetap menginginkan dilakukan pendataan.

"Mereka maunya audiensi. Kalau audiensi, kita khawatir tidak ada titik temu. Jadi kita cooling down aja. Besok tidak ada yustisi," ucapnya. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. Razia PMKS
  2. Surabaya
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini