Melihat tradisi mandi lumpur di Kuta usai perayaan Nyepi
Merdeka.com - Puluhan warga dari bocah hingga kakek berkumpul di depan pura Bale Agung bertempat di Desa Kedonganan, Kuta Selatan, Rabu (29/3).
Dengan mengenakan pakaian adat telanjang dada, setelah diperciki tirta langsung menuju hutan mangrove di kawasan Pura Dalem dekat setra (kuburan) adat desa ini.
Mereka menggelar tradisi Mebuug-buugan atau tradisi mandi dan perang lumpur. Tradisi kegembiraan setelah Nyepi ini sudah dilaksanakan sejak 60-an tahun lalu.
Sempat lama tidak digelar, namun sejak tahun 2015 kembali di gelar oleh desa adat Kedonganan. Tradisi Mebuug-buugan ini mayoritas diikuti oleh kaum laki-laki.
"Tradisi perang lumpur ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sehari setelah Nyepi yang bertujuan menetralkan sifat-sifat buruk," tutur I Made Gede Budhyastra, ketua panitia pelaksana Mebuug Buugan, Rabu (29/3).

Menariknya pada kegiatan untuk kali ini para wanita ikut dilibatkan. Tradisi ini dulunya hanya diikuti kaum pria.
"Di zaman dahulu tradisi ini dilakukan khusus oleh kaum pria. Bahkan dilakukan bugil, karenanya tidak ada wanita dilibatkan. Namun saat ini kita libatkan untuk mengenal tradisi kita, hanya saja tetap berpakaian," ungkapnya.
Dia mengatakan, seluruh warga yang terlibat dalam tradisi mebuugan ini lebih dari 140 orang. "Usai acara ini langsung mandi di pantai bersama-sama," pungkasnya.
(mdk/gil)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya