Melihat jantung Indonesia di Kabupaten Sekadau

Senin, 28 November 2016 12:27 Reporter : Anwar Khumaini
Kantor Bupati Sekadau. ©dprd.sekadaukab.go.id

Merdeka.com - Mungkin dari kita belum banyak yang mengenal Kabupaten Sekadau, yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat. Padahal, kota kecil ini memiliki posisi yang strategis dalam peta Indonesia. Konon, Sekadau adalah jantung Indonesia.

"Kota Sekadau itu adalah jantung dari Indonesia, karena letaknya tepat di jantung Indonesia," kata Sekda Kabupaten Sekadau, Yohannes John, Jumat (25/11).

Tak cuma memiliki lokasi yang strategis, Sekadau memiliki berberapa tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi serta hasil alam yang melimpah.

Kabupaten Sekadau adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan daerah kecil yang memiliki potensi jalur transportasi segitiga, yakni daerah Nanga Taman dan Nanga Mahap yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ketapang. Kota Sekadau merupakan kota inti yang dilewati oleh jalur ke kota maupun pedalaman, daerah Tiga Belitang berbatasan dengan Senaning, Kabupaten Sintang dan Sarawak, Malaysia Timur.

Kabupaten Sekadau yang beribukota di Sekadau memiliki luas 5.444,30 KmĀ² atau 3,71% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat, yang terbagi dalam 76 Desa dan 7 Kecamatan diantaranya Kecamatan Nanga Mahap, Kecamatan Nanga Taman, Kecamatan Sekadau Hulu, Kecamatan Sekadau Hilir, Kecamatan Belitang Hilir, Kecamatan Belitang dan Kecamatan Belitang Hulu.

Komoditi unggulan Kabupaten Sekadau yaitu sektor perkebunan, pertanian dan jasa. Sektor Perkebunan komoditi unggulannya adalah kelapa sawit, kakao, karet, kopi, kelapa, dan lada. Sub sektor pertanian komoditi yang diunggulkan berupa jagung, ubi jalar, dan ubi kayu. sub sektor jasa Pariwisatanya yaitu wisata alam.

"Sebagian besar masyarakat kita bermata pencaharian petani kelapa sawit dan karet," ujar Yohannes.

Penduduk asli Kabupaten Sekadau adalah etnis Dayak, yang terbagi dalam sub-sub suku Dayak di Kabupaten Sekadau antara lain, Dayak Mualang, Dayak Ketungau Sesat, Dayak Kerabat, Dayak Jawant, Dayak Senganan (Dayak Muslim/ yang dianggap orang luar sebagai Melayu Sekadau ). Dayak Mualang mempunyai populasi yang terbesar diperkirakan lebih dari 60% penduduk Kabupaten Sekadau.

Kerajinan masyarakat yang ada di Sekadau adalah Tenun Mualang, yaitu kain tapeh dengan motif kain Engkerebang, Pangit dan lain-lain. Ada juga kerajinan anyam Tangoy terdapat di daerah Menawai Lingkau. Sementara kerajinan Bakul, terdapat di daerah Nanga Taman dan Nanga Mahap.

Kabupaten Sekadau juga memilik tempat-tempat bersejarah, antara lain: Lawang Kuari (merupakan rumah betang yang melebur menjadi gua batu dalam legenda Sangik dan Marik), di Jaman Kerajaan Sekadau, tempat ini digunakan oleh Pangeran Agong. Ada juga Batu Tinggi, Lawang Siti, Batu Kenyalau, Batu Nyaut, serta Palak Kaba' yang merupakan rumah/tempat penyimpanan tengkorak hasil kayau yang berada di Tembawang Gumah Lanau Desa Landau Kodah, Kecamatan Sekadau Hilir.


Sejarah Kota Sekadau

Nama Sekadau diambil dari sejenis pohon yang banyak tumbuh di muara sungai Sekadau. Penduduk setempat menamakannya Batang Adau.

Asal mula penduduk Sekadau adalah pecahan rombongan Dara Nante yang di bawah pimpinan Singa Patih Bardat dan Patih Bangi yang meneruskan perjalanan ke hulu sungai Kapuas. Rombongan Singa Patih Bardat menurunkan suku Kematu, Benawas, Sekadau dan Melawang. Sedangkan rombongan Patih Bangi adalah leluhur suku Dayak Melawang yang menurunkan raja-raja Sekadau.

Mula-mula kerajaan Sekadau terletak di daerah Kematu, lebih kurang 3 kilometer sebelah hilir Rawak. Raja pertama Sekadau adalah Pangeran Engkong yang memiliki tiga putra, yakni Pangeran Agong, Pangeran Kadar dan Pangeran Senarong. Sesudah Pangeran Engkong wafat, kerajaan diteruskan oleh putra keduanya, Pangeran Kadar, karena dinilai lebih bijaksana dari putra-putra yang lain. Karena kecewa, Pangeran Agong kemudian meninggalkan Sekadau menuju daerah Lawang Kuwari. Sedangkan Pangeran Senarong kemudian menurunkan penguasa kerajaan Belitang.

Setelah Pangeran Kadar wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh putra mahkota Pangeran Suma. Pangeran Suma pernah dikirim orangtuanya untuk memperdalam pengetahuan agama Islam ke kerajaan Mempawah, karena itu pada masa pemerintahannya agama Islam berkembang pesat di kerajaan Sekadau. Ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke kampung Sungai Bara dan sebuah masjid kerajaan didirikan di sana. Pada masa ini pula Belanda sampai ke kerajaan Sekadau.

Pangeran Suma kemudian digantikan oleh putra mahkota Abang Todong dengan gelar Sultan Anum. Lalu digantikan lagi oleh Abang Ipong bergelar Pangeran Ratu yang bukan keturunan raja namun naik tahta karena putra mahkota berikutnya belum cukup dewasa. Setelah putra mahkota dewasa, ia pun dinobatkan memerintah dengan gelar Sultan Mansur. Kerajaan Sekadau kemudian dialihkan kepada Gusti Mekah dengan gelar Panembahan Gusti Mekah Kesuma Negara karena putra mahkota berikutnya, yakni Abang Usman, belum dewasa. Abang Usman kemudian dibawa ibunya ke Nanga Taman.

Sesudah pemerintahan Panembahan Gusti Mekah Kesuma Negara berakhir, Panembahan Gusti Akhmad Sri Negara dinobatkan naik tahta. Tetapi oleh penjajah Belanda, panembahan beserta keluarganya kemudian diasingkan ke Malang, Jawa Timur, dengan tuduhan telah menghasut para tumenggung untuk melawan Belanda.

Karena peristiwa tersebut, Panembahan Haji Gusti Abdullah kemudian diangkat dengan gelar Pangeran Mangku sebagai wakil panembahan. Ia pun dipersilakan mendiami keraton. Belum lama setelah penobatannya, Pangeran Mangku wafat. Ia kemudian digantikan oleh Panembahan Gusti Akhmad, kemudian Gusti Hamid. Raja Sekadau berikutnya adalah Panembahan Gusti Kelip.

Tahun 1944 Gusti Kelip tewas dibunuh penjajah Jepang. Pihak Jepang kemudian mengangkat Gusti Adnan sebagai pembesar kerajaan Sekadau dengan gelar Pangeran Agung. Ia berasal dari Belitang. Juni 1952, bersama Gusti Kolen dari kerajaan Belitang, Gusti Adnan menyerahkan administrasi kerajaan kepada pemerintah Republik Indonesia di Jakarta dengan tergabung dalam Kabupaten Sanggau.

Pemerintahan Kabupaten Sekadau dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Pembentukan Kebupaten Melawi dan Kabupaten Sekadau di Provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sekadau merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Sanggau, maka sejak Tahun 2003 resmi menjadi kabupaten sendiri dengan nama Kabupaten Sekadau. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Sekadau
  2. Highlight
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.