Hot Issue

Melawan Rasa Takut dari Wisma Atlet

Kamis, 22 Juli 2021 09:09 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Melawan Rasa Takut dari Wisma Atlet Melihat WNI usai jalani isolasi di RSD Wisma Atlet. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Keringatnya mengucur deras. Wajahnya tegang. Tak kuat melihat orang-orang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Erni (65), tiba di Wisma Atlet untuk menjalani perawatan karena terpapar Covid-19 awal Juni lalu.

Dia bersama sang anak, Dina (20) menunggu di lobi Wisma Atlet yang disulap menjadi IGD rumah sakit darurat penanganan Covid-19 oleh pemerintah. Empat jam menanti, akhirnya anak dan ibu tersebut mendapatkan kamar di Tower 6 Wisma Atlet.

Belum 24 jam dirawat, Dina sudah memaksa untuk minta pulang. Dia ketakutan. Air matanya tak terbendung. Tidak betah dengan suasana perawatan di Wisma Atlet.

"Padahal, dia (Dina) yang awalnya membujuk saya untuk mau dirawat di sana," kata Erni saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (20/7).

Erni adalah pasien dengan kategori Lansia yang memiliki sejumlah komorbid atau penyakit bawaan. Selain darah tinggi, dia juga telah didiagnosa memiliki penyakit diabetes dan kolesterol. Sebelum divonis terpapar Covid-19, Erni mengalami demam, batuk, hingga diare. Keluarga pun memutuskan untuk membawanya ke Wisma Atlet untuk mendapatkan perawatan intensif.

Tak cuma Erni dan anak bungsunya, suaminya pun terpapar Covid-19. Tapi tak ikut menjalani perawatan, karena kondisinya orang tanpa gejala atau OTG. Sehingga, hanya cukup menjalani isolasi mandiri di rumah saja.

rsd wisma atlet kemayoran
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori

Erni bercerita, sebenarnya ruang perawatan di Wisma Atlet tidak buruk. Bahkan ruangannya terbilang asik. Kamar mandinya ada air dingin dan hangat. Namun, suasana di luar yang membuatnya tak kerasan dirawat di sana.

Turun dari lantai tempat perawatan, Erni harus melihat kamar jenazah. Setiap hari, tak bisa dihindarkan ada saja deretan pasien meninggal yang mengisi sudut-sudut ruangan. Peti mati yang disiapkan bertumpuk-tumpuk selalu berganti. Hal ini yang membuatnya menjadi ketakutan.

Dalam pikirannya, tinggal menunggu waktu kapan mendapat giliran masuk peti dan dibawa ke ruangan tersebut. "Takut banget, seperti tidak punya Allah saja saat itu," kenang dia.

Erni pun berhasil mengedukasi sang anak untuk tetap betah dirawat di sana. Demi kebaikan bersama. Demi kesehatan keluarga. Erni dan anaknya harus mengelola rasa takutnya untuk bisa sembuh dan kembali berkumpul bersama keluarga besarnya di Depok.

Selama menjalani perawatan, kesehatan dan kondisi Erni dikontrol ketat oleh para tenaga kesehatan dan dokter. Termasuk soal makanan, karena penyakit komorbid, konsumsi nutrisi yang diberikan oleh dokter pun berbeda. Nasinya tak ada rasa. Lauknya hanya kecap saja. Tapi dia memaklumi. Makanan yang tidak enak itu semata demi memulihkan kondisinya.

"Sebenarnya memang makanan ini yang harus kita konsumsi setiap hari biar sehat. Tapi rasanya tidak enak," cerita dia.

Setiap kali hendak diambil darah, pemeriksaan paru, Erni keringat dingin. Padahal ruangan dingin dengan penyejuk udara non stop. Dia takut, karena seumur hidup tak pernah menjalani perawatan di rumah sakit.

melihat wni usai jalani isolasi di rsd wisma atlet
©Liputan6.com/Faizal Fanani

Namun, tekad untuk sembuh yang kuat, dia harus memberanikan diri. Apalagi, hanya melewati 10 hari masa perawatan. Setelah itu, bisa kembali bersama keluarga di rumah. Kondisinya pun berangsur pulih. Indera penciuman sudah kembali. Jadwal tes PCR pun datang. Hingga akhirnya, dia dinyatakan sembuh dari Covid-19.

"Ini mukzizat Allah, Alhamdulillah," katanya.

Dia pun berterima kasih kepada para dokter dan perawat di RSD Wisma Atlet. Seluruh tenaga kesehatan sangat baik merawat pasiennya. Padahal, dalam kondisi yang penuh dengan APD lengkap.

"Mereka sangat baik sekali, perawat wanita atau laki-laki, semuanya baik-baik banget dan sabar," ujar dia.

Setelah sembuh, Erni menjalani aktivitas dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Jika tak ada kebutuhan sangat mendesak, dia menolak keluar rumah. Masker selalu dipakai, pun hanya berada di teras rumah.

Dia takut, kembali terpapar Covid-19. Dia tak mau bertemu lagi dengan para tenaga kesehatan di Wisma Atlet. Bahkan, bersalaman dengan keluarga sendiri pun, dia menolak.

"Enggak mau salaman (jabat tangan) dulu deh, takut," katanya sambil tertawa. [rnd]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini