Mampukah Suhu Panas Menekan Penyebaran Covid-19?

Sabtu, 4 April 2020 05:34 Reporter : Bachtiariadi Alam, Nur Habibie
Mampukah Suhu Panas Menekan Penyebaran Covid-19? Corona. Unsplash ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, virus Covid-19 atau corona tak kuat hidup di Indonesia. Karena, virus tersebut tak bisa hidup di cuaca Indonesia yang cenderung panas.

Menanggapi itu, manager Grup Epidemiologi Spasial, Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Iqbal Elyazar menilai sampai saat ini kondisi suhu iklim masih tidak efektif menahan laju penyebaran virus corona (Covid-19).

Menurutnya. hanya dengan menjaga jarak dan kontak langsung merupakan keputusan yang tepat dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona.

"Sesuai hasil kajian Jon Brassey memperlihatkan bahwa efek cuaca dalam penularan virus itu sifatnya kecil. Sehingga strategi menghentikan penularan tidak bisa mengandalkan cuaca saja, tapi tindakan untuk mencari orang terinfeksi dan langsung memisahkan si sakit dari si sehat. Itu lebih tepat," kata Iqbal Elyazar saat dihubungi merdeka.com, Jumat (3/4).

Menurutnya, kondisi perubahan iklim lebih sedikit berpengaruh, tetapi tidak cukup memperlambat laju penyebaran Covid-19.

"Belum cukup penelitian dan data yang memperlihatkan hubungan antara dampak iklim yang lebih panas dengan berhentinya penularan virus corona, sampai saat ini," ujarnya.

Sementara pengamat Kesehatan Marius Widjajarta mengaku, tak ada kaitannya cuaca di Indonesia dengan virus yang kini sedang menyerang masyarakat di dunia termasuk Indonesia.

"Keilmuan yang saya dapat, enggak ada hubungannya virus dengan cuaca. Jadi jangan ke mana-mana, kita bicara kesehatan aja ilmiah. Kebetulan kan dulu saya sekolah dokter, selama saya belajar enggak ada hubungannya dengan cuaca. Jadi jangan buat ilmu baru deh, lebih baik diem daripada ke sana ke sini," kata Marius saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Jumat (3/4).

Ia menegaskan, cuaca di Indonesia tidak ada hubungannya sama sekali dengan virus Corona. Namun, untuk masyarakat yang berjemur dibawah terik matahari pagi untuk mendapatkan tambahan Vitamin B.

"Enggak ada (pengaruhnya virus dengan cuaca), jadi sesuai dengan keilmuan saya. Kadang Indonesia buat ilmu baru saya juga bingung sih, protokol lah. Enggak ada hubungannya, kalau kita vitamin B dari matahari bener itu. Makanya kalau anak kecil pada jam-jam tertentu dijemur itu kan, itu kan sinar matahari baik untuk vitamin B," tegasnya

1 dari 5 halaman

Pemerintah Diminta Sediakan APD

Selain itu, ia ingin agar para petugas medis yang kini sedang menangani virus corona. Dapat menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Karena, yang dihadapi oleh mereka bukanlah virus biasa saja.

"Keselamatan pasien secara WHO, ini WHO beneran bukan protokol-protokolan ya, itu jadi kita kalau ngobatin orang, kita harus selamat juga, bukannya diri kita enggak selamat. Makanya untuk penyelamatan diri, apa yang mesti dipakai ya APD. Intinya hati-hati, kita jangan main-main sama virus, virus kan sangat ganas itu. Di WHO itu standard WHO pakai jas hujan segala, enggak ada itu," ujarnya.

"Jadi kalau bicara petugas kesehatan, kalau pakai APD itu wajib. Jadi pemerintah sediain itu (APD) jangan lari kemana-mana, sekarang kan kaya orang panik jalan disemprot-semprot gitu. Jadi kalau menurut saya, daripada uang dibuat kemana-mana, lebih baik. Kalau standard WHO itu kan pakai pelindung, ya APD harus disiapin," sambungnya.

Dirinya merasa sedih apabila APD belum tercukupi, maka angka kematian akan tinggi atau bertambah. Jadi, pemerintah mesti menyiapkan APD yang banyak sebagai salah satu cara untuk memutus rantai penyebaran corona.

"Kalau dia sudah terpapar, karena kemungkinan terpaparnya tinggi, karena dia tidak pakai APD. Terus pembagian APD harus jelas, jangan orang-orang yang enggak perlu malah pakai APD dan yang perlu malah enggak pakai nanti. Saya lihat di tv, ada bukan petugas kesehatan pakai APD, kalau orang yang enggak perlu, pakai jas hujan juga enggak masalah sih," ungkapnya.

"Kalau tenaga kesehatan itu wajib pakai APD, karena dia enggak mungkin periksa pasien jarak 2 meter enggak mungkin, bisa kabur pasiennya," tambahnya.

2 dari 5 halaman

Penyemprotan Disinfektan di Jalan Tak Perlu

Menurutnya, penyemprotan cairan disinfektan di jalan-jalan tak perlu dilakukan. Penyemprotan disinfektan itu perlu dilakukan apabila dilakukan di perumahan atau disebuah gang-gang yang berpenghuni.

"Setiap jalan disemprot segala macam, itu ada gunanya enggak, enggak ada sebetulnya itu sih. Malah bikin orang pusing, disemprot di jalan-jalan itu enggak, dasarnya satu. Dulu waktu flu burung itu enggak ada semprot-semprot gitu, enggak ada," ucapnya.

"Kalau di rumah, di gang-gang masih mending. Kalau di jalan kan udara bebas itu, kemana-mana anginnya. Jadi kalau menurut saya, daripada uang dibuat kemana-mana, lebih baik. Kalau standard WHO itu kan pakai pelindung, ya APD harus disiapin," sambungnya.

3 dari 5 halaman

Indonesia Bisa Atasi Flu Burung

Dirinya menilai Indonesia terlalu panik dalam mengatasi virus corona. Pasalnya, Indonesia pernah sukses dalam menghadapi virus yang berbahaya juga yakni flu burung.

"Pemerintah jangan panik, kita waspada sih waspada ya. Coba kita lihat, dulu flu burung angka kematiannya lebih cepet, satu hari positif mati orangnya, itu Indonesia udah bisa itu. Kenapa kok sekarang panik banget," tuturnya.

4 dari 5 halaman

Tak Cukup Konsultasi Lewat Aplikasi

Menurutnya, konsultasi melalui sebuah aplikasi kesehatan kuranglah efektif. Karena, untuk dapat mengetahui secara pasti penyakit seseorang harus dengan tatap muka secara langsung.

"Saya lihat juga kan sekarang isolasi mandiri, coba dia bilang bisa konsultasi lewat hallo klik dokter segala macem, ya enggak bisa. Secara keilmuan, itu ilmu kedokteran itu tatap muka. Kan harus lewati ada beberapa fase, kan melihat orang diamati dari ujung rambut sampai ujung kaki, jadi mesti diperiksa. Jadi kalau di dalem itu ilmu kedokteran yang saya pelajari, itu enggak bisa disingkat-singkat pakai klik dokter segala macem enggak bisa," tuturnya.

"Justru bahaya itu, kalau ada gejala macem-macem segeralah ke layanan sarana kesehatan terdekat. Karena makin cepat terdeteksi makin bagus. Karena apa, itu tadi kalau makin lambat itu makin lebih parah, jadi terjadi perburukan. Kalau ada gejala-gejala itu segera ke rumah sakit, dokter, puskesmas juga boleh kan ada dokter itu. Harus diperiksa, enggak bisa secara digital," sambungnya.

5 dari 5 halaman

Jangan Berlebihan Konsumsi Vitamin C

Selain itu, ia ingin agar masyarakat tak berlebihan dalam mengkonsumsi Vitamin C. Karena, untuk ukuran orang dewasa itu hanya dibutuhkan Vitamin C sebanyak 300 mili saja dan tak boleh lebih.

"Karena kalau 500 mili itu kelebihan, apalagi kalau 1000 mili. Karena enggak bisa diserap tubuh, emang kalau vitamin C itu, keluar buang air kecil sama keringat, tidak dikubur tubuh bukan, kalau kelebihan vitamin C enggak ada masalah. Tapi sayang kalau dibuang lagi, kalau kita buang air kecil, buang air besar, keringat. Kalau vitamin C butuhnya 300ml perhari untuk orang dewasa," katanya.

"Vitamin C cukup 300ml, enggak perlu 1000ml, sekarang kan banyak yang 1000ml. Yang kita butuhkan hanya 300ml orang dewasa. Menurut saya kalau matahari Vitamin B bener itu, tapi kalau mematikan kuman enggak. Pada jam-jam tertentu matahari juga, tapi kalau kebanyakan matahari bisa menyebabkan kanker kulit juga. Makanya kalau orang berjemur pakai sanblok. Jadi jam tertentu, kalau siang enggak bagus, kalau enggak salah dibawah jam 10 deh," tutupnya. [gil]

Baca juga:
Tak Ada Penerbangan di Berau, Specimen PDP Dikirim Lewat Darat ke Balikpapan
Jeritan Pedagang Kaki Lima di Tengah Pandemi Corona
Alat Uji Penyakit TBC Bakal Digunakan untuk Tes Covid-19
Unair Kembangkan 5 Senyawa untuk Lawan Corona
Ini 3 Potret Lokasi yang Akan Dijadikan Tempat Karantina Pendatang di Jogja
Perta Arun Gas Jamin Pasokan Gas Tetap Aman di Tengah Pandemi Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini