Mabes Polri sayangkan tudingan Novel sebut ada pejabatnya terlibat
Merdeka.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut ada pejabat polisi terlibat dalam kasus penyiraman air keras ke wajahnya. Tudingan ini disayangkan Mabes Polri. Sebab, seharusnya Novel memberikan berbagai informasi.
Hal itu diungkapkan Kabagpenum Polri Martinus Sitompul. Sehingga setiap informasi penting bisa langsung ditindak dan bukan melempar isu ke media.
"Sebaiknya informasi yang dimiliki itu disampaikan kepada penyidik Polri dalam hal ini penyidik Polda Metro, supaya penyidik Polda metro bisa menindaklanjutinya, informasi-informasi penting yang dianggap penting oleh saudara novel hendaknya disampaikan kepada penyidik," ujar Martinus di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (14/6).
Martinus menambahkan, segala informasi harus dibuktikan kebenarannya. Ini diperlukan agar tindak menjadi bola liar menyesatkan.
"Supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan karena proses itu kan harus informasi harus diuji tidak dibiarkan, kalau diberikan kepada penyidik, dari mana alur-alurnya, fakta-fakta apa yang mendukung pernyataan itu, jadi prinsipnya harus diserahkan ke polisi," tegasnya.
Untuk itu, pihaknya berharap Novel membuka selebar-lebarnya mengenai informasi pejabat Polri terlibat kasus penyiraman air keras. Sehingga nantinya tidak jadi isu panas tanpa arah jelas.
"Jadi kalau tidak disampaikan, kemudian disampaikan ke publik informasi itu katakanlah tidak bernilai ya karena tidak bisa ditindaklanjuti, nah karena kalau menuding seseorang kan harus kita bisa dapat faktanya. Waktunya kapan pukul berapa di mana, siapa, perwiranya itu kan harus jelas," terangnya.
Sebelumnya, Novel menyebut adanya keterlibatan pejabat Polri ketika melakukan wawancara dengan TIME di Singapura empat hari lalu. Dalam wawancara dengan majalah TIME di Singapura empat hari lalu penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan mengatakan ada seorang pejabat polisi yang terlibat dalam kasus penyiraman air keras ke wajahnya.
Sejak insiden yang terjadi pada 11 April lalu, ini adalah kali pertama Novel diwawancara media. Ketika diwawancara di ranjang rumah sakit di Singapura, Novel masih menjalani pemulihan. Matanya masih memakai pelindung yang dipasang di wajah.
Novel mengaku penyiraman air keras itu adalah serangan keenam yang dia alami selama menjadi penyidik KPK. Dia mengatakan cukup heran mengapa polisi belum berhasil menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya.
"Saya mendapat informasi bahwa ada seorang jenderal polisi--berpangkat tinggi--terlibat. Awalnya saya katakan informasi itu tidak benar. Tapi sekarang setelah berjalan dua bulan dan kasus ini belum juga terpecahkan, saya bilang (kepada orang yang menduga polisi terlibat) bahwa rasanya informasi itu benar," ujar Novel, seperti dilansir Time.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya