Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan mencoba aplikasi Digital Singel ID berbasis face recognition untuk penyaluran Bantuan Sosial (Bansos).
Percobaan aplikasi ini terlihat dalam video yang diunggah dalam akun @luhut.pandjaitan.
Dalam percobaan aplikasi itu, Luhut diminta untuk memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Setelah berproses, kemudian menuju langkah berikutnya yakni verifikasi biometrik atau muka.
"Ini ceritanya skenario-nya, Bapak mau minta bansos. Pertama saya masukkan, yang saya butuhkan hanya NIK Pak," ujar Senior Advisor di Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Rahmat Danu Andika dalam video, Sabtu (13/6).
"Jadi sebetulnya semua orang yang sudah punya NIK Pak di Republik ini bisa difasilitasi hanya dengan butuh NIK-nya dan foto muka-nya Pak. Jadi begitu sudah saya input, nah disini kita mulai verifikasi biometrik. Nah ini Pak, izin Pak," sambungnya.
Wakil Direktur Utama INA Digital (Perum PDS) ini kemudian kembali menjelaskan proses verifikasi apakah layak mendapatkan bansos atau tidak.
"Barusan itu liveness Pak, langsung keluar Pak namanya. Tadi kan saya bahkan tidak input nama Bapak, tapi namanya langsung keluar. Karena ini langsung balikan dari source of truth kita Dukcapil," jelasnya.
Hanya dengan memasukkan NIK dan verifikasi biometrik atau muka. Bisa langsung mengetahui sebagai penerima bansos atau tidak.
Saat itu, Luhut mencoba untuk mendaftar Bantuan Program Non Tunai (BPNT) sembako. Saat mendaftar, diperlukan memasukkan nomer ID pelanggan PLN.
"Ini sudah mulai DPI-nya (Digital Public Infrastructure) bekerja Pak. Bahwa dengan begini, betul-betul hanya masukkan NIK, muka, tapi Bapak tidak perlu upload-upload apa-apa yang lain. Kita coba, Bapak ceritanya mendaftar BPNT ya Pak, Sembako," paparnya.
"Bapak mendaftar Sembako, baik saya bantu lanjutkan. Saya perlu memasukkan ID pelanggan (PLN) Pak Luhut. Setelah saya masukkan ID pelanggan Pak Luhut, langsung ini DPI juga bekerja, melakukan validasi dan verifikasi langsung ke PLN sebagai source of truth," tambahnya.
Setelah hasil verifikasi keluar, langsung muncul nama dari pemilik ID pelanggan PLN. Saat itu, tertera nama istri dari Luhut yakni Devi Panjaitan.
Kemudian, keluar ringkasan dengan memperlihatkan nomor handphone, BPNT dan ID pelanggan yang didaftarkan atau tertera pada aplikasi tersebut.
Untuk memastikan data-data tersebut, kembali dilakukan verifikasi biometrik atau muka.
"Sudah pendaftarannya masuk, begitu sekarang Pak, ini langsung izin Pak. Luhut Panjaitan, anggota keluarga Bapak, saya sebagai yang bantu Bapak bisa langsung bilang, Pak Luhut mohon maaf, Bapak enggak layak Pak dapat Sembako. Maaf ini enggak layak," ucapnya.
"Bapak tanya, kenapa saya enggak layak?" sambungnya.
"Tunjukin," sahur Luhut.
Advertisement
Tinggal Buka Sistem
Untuk menjawab itu, seseorang bisa langsung mengklik tulisan pada aplikasi tersebut alasan kenapa tidak mendapatkan BPNT atau bansos.
"Bukan saya yang harus menjelaskan, saya tinggal buka sistem, diklik di sini, alasannya ada beberapa. Yang pertama, Bapak sertifikat tanahnya lebih dari satu. Mohon maaf Pak. Yang kedua, Bapak punya mobil, roda empat lebih dari satu. Desil Bapak di atas kelayakan program," ungkapnya.
"Program ini untuk desil empat ke bawah, Bapak di atas itu. Upah per kapita, Bapak penghasilan Bapak lebih dari Rp1.082.000 per kapita per bulan. Konsumsi listrik Bapak jauh di atas Rp41.500 per kapita per bulan," sambungnya.
Advertisement
Dua Menit
Dalam proses verifikasi ini, tidak membutuhkan waktu yang lama. Karena, hanya memakan waktu dua menit saja.
"Ini alasannya Pak. Nah, selesai Pak. Tadi enggak sampai 2 menit kita mendaftarkan Bapak dan hasilnya setelah setan ini. Ditolak Pak. Mohon maaf Pak, Bapak nggak bisa dapet BPNT Pak," ucapnya.
"Terimakasih," timpal Luhut.