Limbah Cair Kelapa Sawit PTPN V Diubah Jadi Sumber Listrik Terbarukan

Jumat, 6 Maret 2020 20:07 Reporter : Abdullah Sani
Limbah Cair Kelapa Sawit PTPN V Diubah Jadi Sumber Listrik Terbarukan Menristek resmikan PLTBg di Kampar. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Limbah cair kelapa sawit dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V dimanfaatkan dan diolah untuk dijadikan sumber energi listrik terbarukan. Operasional Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Terantam di Desa Kasikan, Kampar, Riau, Jumat (6/3).

PLTBg dibangun melalui kerja sama antara anak perusahaan holding perkebunan di Riau dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan diresmikan Menteri Riset dan Teknologi sekaligus Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro. Turut hadir dalam peresmian Kepala BPPT Hammam Riza, Deputi TIEM BPPT Eniya Listiani Dewi dan Bupati Kampar Catur Sugeng Susanto.

Bambang Brodjonegoro mengatakan, dalam beberapa kesempatan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) acap menyoroti ketergantungan pada konsumsi energi fosil dan harus mulai mengganti energi fosil ke energi terbarukan.

"Indonesia sebagai negara produsen sawit terbesar di dunia hendaknya dapat memainkan peran utama di bidang energi, melalui transisi ke bahan bakar nabati. Tahun ini Presiden Jokowi sudah menetapkan B30 yang memungkinkan penghematan bahan bakar impor dan mengurangi emisi gas rumah kaca lebih besar lagi. Mohon ini bisa kita kawal bersama-sama," kata Bambang.

Selain bahan bakar nabati, Kemenristek/BRIN saat ini juga intens mendorong inovasi alternatif energi terbarukan. Termasuk pembangkit listrik tenaga biogas di PKS Terantam PTPN V, yang memanfaatkan limbah cair untuk dikonversi menjadi energi listrik berdaya 700 KWH.

"Kami merasa senang dengan terobosan yang ada di PTPN V ini. Dikerjakan oleh BPPT, nilai investasi dalam membangun biogas Terantam mencapai Rp 27 miliar. Ternyata jauh lebih efisien dibandingkan biogas yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Ini perlu diapresiasi dan semoga dapat ditiru oleh perusahaan perkebunan sawit lainnya," tambah Bambang.

Bambang juga berharap, jika PTPN V sanggup memanfaatkan seluruh potensi limbah cair dan padatnya, maka jika kebutuhan sendiri telah terpenuhi, diharapkan listriknya dapat dimanfaatkan pula oleh masyarakat.

"Kalau untuk operasional sendiri sudah cukup, dan masih ada kelebihan, tentu dapat disalurkan untuk masyarakat. Sehingga akan sangat membantu daerah setempat guna pemenuhan elektrifikasi," jelasnya.

Senada dengan harapan pemerintah, Direktur Utama PTPN V Jatmiko K Santosa menyampaikan, perusahaannya senantiasa fokus dalam penerapan sawit lestari, termasuk dalam pengelolaan limbah sawit baik cair maupun padat.

"Kami senantiasa berupaya memanfaatkan teknologi, ini tidak hanya bagi perusahaan, namun juga yang berdampak bagi masyarakat," ujar Jatmiko.

Dijelaskannya, dari sisi produktifitas PTPN V saat ini sudah mampu melampaui perkebunan sawit negara bahkan perusahaan sawit swasta nasional.

Dengan memanfaatkan seluruh potensi serta memberikan nilai tambah melalui optimalisasi aset, kata Jatmiko, maka pemanfaatan limbah cair menjadi energi baru terbarukan.

"Salah satunya melalui pembangkit listrik biogas, tidak hanya akan berdampak pada pencapaian perusahaan. Tetapi lebih jauh lagi, juga akan berdampak pada kesejahteraan masyarakat, serta tentunya dapat menekan emisi gas rumah kaca secara optimal," bebernya.

Listrik yang dihasilkan PLTBg bisa untuk menggerakkan mesin di Pabrik Palm Kernel Oil/PPKO di Tandun. Perusahaan dapat menghemat Rp 6 miliar biaya operasional PPKO setahun.

Saat ini, PTPN V memiliki 12 pabrik berkapasitas 570 ton TBS perjam yang diharapkan seluruhnya dapat dibangun pembangkit yang memanfaatkan limbah cair maupun padat.

Dia berharap, selain optimalisasi aset yang menghasilkan listrik, kerja sama PTPN V Pekanbaru dengan BPPT ke depan, di antaranya pembangunan pembangkit Co-Firing di Sei Pagar, yang mampu menjadi alternatif sumber energi penggerak boiler menggantikan cangkang.

"Maka kami percaya akan membantu perusahaan menekan biaya produksinya. Dan yang paling penting mampu menjadi bukti penerapan prinsip pengelolaan industri sawit yang lestari melalui pengurangan emisi gas rumah kaca," tutupnya. [cob]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini