Komisi V DPR RI memberikan angin segar untuk kelangsungan pembangunan Jalur Poros Tengah Timur (PTT) atau Puncak II di Kabupaten Bogor. Mereka berjanji memperjuangkan alokasi anggaran pembangunan Jalur Puncak II.
Anggota Komisi V DPR RI, Mulyadi mengatakan jika, keberadaan Jalur Puncak II, bukan hanya untuk kepentingan konektivitas antara Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur.
"Tapi di balik gemerlapnya kawasan Puncak, di sisi timur ini banyak wilayah tertinggal, banyak masyarakat yang kesulitan karena minim akses karena jalur distribusi sangat jauh," kata Mulyadi, saat Komisi V DPR RI menggelar Kunjungan Kerja Spesifik di Kabupaten Bogor, Kamis (18/3).
Kata dia, kunjungan kerja ini, untuk mendengar langsung paparan dari Pemkab Bogor dan Cianjur, terkait potensi dan masalah yang berkaitan dengan pembangunan Jalur Puncak II.
"Kunjungan ini menguatkan teman-teman di Komisi V dan kami mendorong segera dialokasikan anggarannya. Kendala teknis, seperti alam dan lain-lain tidak jadi alasan untuk jadi program strategis nasional," tegas politisi Gerindra asal Kabupaten Bogor itu.
Butuh Rp1,6 Triliun
Bupati Bogor, Ade Yasin mengakui untuk pembangunan Puncak II, membutuhkan anggaran Rp1,6 triliun. Menurutnya, anggaran sebesar itu, tidak bisa dialokasikan dari APBD Kabupaten Bogor.
"Maka kami berharap ada intervensi anggaran dari pemerintah pusat untuk pembangunan Puncak II. Alhamdulillah sekarang dengan dorongan teman-teman Komisi V DPR RI, mereka janji mau memperjuangkan anggarannya," kata Ade Yasin.
Menurutnya, keberadaan Jalur Puncak II, bisa mengurangi kemacetan di Jalan Raya Puncak hingga 50 persen. Karena, kemacetan Puncak tidak hanya disebabkan wisatawan yang berkunjung, tapi juga yang ingin menuju Cianjur hingga Bandung.
"Selain itu, Puncak II bisa memecah konsentrasi kegiatan ekonomi yang masih terpusat di tengah, seperti Kecamatan Babakanmadang dan Citeureup yang memiliki sektor penggerak ekonomi utama di sektor industri, konstruksi, perdagangan dan jasa," kata Ade.
Sementara kecamatan lainnya yang dilintasi Puncak II, seperti Kecamatan Sukamakmur dan Tanjungsari, penggerak ekonominya berkutat pada sektor pertanian. Namun, mereka kesulitan dalam melakukan distribusi selama karena minimnya aksesibilitas.
"Jalur ini juga menghubungkan Bogor, Cianjur, Bekasi dan Karawang. Dengan Puncak II, diharapkan jarak tempuh dari dan ke Bogor atau Cianjur bisa lebih efisien hingga 16 persen," jelas Ade Yasin.