Kisah Tan Malaka dikhianati Alimin soal pemberontakan PKI 1926

Selasa, 25 Februari 2014 07:03 Reporter : Angga Yudha Pratomo, Mardani
Kisah Tan Malaka dikhianati Alimin soal pemberontakan PKI 1926 Tan Malaka. Buku Dari Penjara ke Penjara

Merdeka.com - Tan Malaka merupakan tokoh PKI yang menolak pemberontakan pada 1926-1927. Tan Malaka mendapat informasi soal rencana pemberontakan dari Alimin di Manila, Filipina.

Saat itu, Alimin melaporkan soal keputusan pertemuan di Prambanan kepada Tan Malaka sebagai wakil Komunis Internasional (Komintern) wilayah Asia Tenggara. Pertemuan yang digelar pada 25 Desember 1925 itu dihadiri oleh sejumlah pemimpin PKI di bawah Sardjono.

Dalam pertemuan itu disepakati PKI akan memberontak terhadap pemerintah Belanda pada Juli 1926 dimulai dengan pemogokan-pemogokan dan disambung aksi bersenjata.

Namun Tan Malaka tak setuju atas rencana itu. Tan Malaka menilai rencana pemberontakan masih mentah dan PKI belum siap untuk memberontak. Jika dipaksakan malah akan membahayakan gerakan di tanah air. Pemerintah Belanda pasti akan semakin memperketat ruang gerak dunia gerakan.

"Putusan itu saya anggap salah, karena diambil tergesa-gesa, kurang pertimbangan, harinya akibat provokasi lawan dan tidak seimbang dengan kekuatan diri sendiri, tidak bisa dipertanggungjawabkan kepada rakyat, tidak cocok dengan taktik strategi komunis, ialah massa aksi, akibatnya akan sangat banyak merugikan pergerakan di Indonesia dan lain sebagainya," kata Tan Malaka dalam biografinya 'Dari Penjara ke Penjara.'

Tan Malaka meminta agar keputusan tersebut dirundingkan kembali. Tan lantas memberi Alimin dokumen yang berisi alasan penolakan terhadap rencana pemberontakan. Dokumen itu harus diberikan kepada para elite PKI yang ada di Singapura, Sumatera dan Jawa.

Dokumen itu berisi berbagai ringkasan usul atau tuntutan terkait dengan massa aksi, seperti mogok umum tuntutan ekonomi, mengadakan majelis permusyawaratan rakyat, memproklamirkan kemerdekaan dan membentuk pemerintah sementara dll.

Bila semua tuntutan terlaksana, kata Tan, barulah pukulan terakhir dijalankan. Tan menilai PKI belum siap memberontak dalam waktu dekat.

"Kalau sudah siap, maka sewaktu-waktu cara massa aksi inilah yang harus dilakukan oleh suatu partai komunis," ucapnya.

Alimin pun berangkat menuju Singapura untuk merundingkan kembali rencana Prambanan dengan para tokoh PKI seperti Musso, Boedisoetjitro, Sugono, Subakat, Sanusi dan Winata. Alimin meyakinkan Tan Malaka , bahwa ia sanggup mengumpulkan tokoh PKI lainnya untuk kembali merundingkan rencana itu. Jika sudah siap, Alimin berjanji akan memberi kabar kepada Tan Malaka .

"Kami aturlah kode bersama-sama. Kalau setuju dengan usul saya apa kodenya, kalau tidak apa dan kalau setengah apa pula, dan lagi dengan pendek saya tuliskan saya atas keadaan di Indonesia, dan saya usulkan taktik yang harus dijalankan semuanya kode, tinjauan dan usul, diketik oleh Alimin sendiri," katanya.

Namun, setelah satu bulan pergi, tak juga ada kabar dari Alimin kepada Tan Malaka . Setelah diselidiki, ternyata Alimin tak pernah menyerahkan dokumen tersebut kepada para tokoh PKI di Singapura. Alimin malah pergi ke Moskow bersama Musso meminta restu untu menjalankan pemberontakan.

"Baru saya sadar kejujuran Alimin terhadap saya sendiri, selama ini. Teman yang selama ini saya anggap jujur terhadap saya dan amat saya hargai selama ini, hilang di hati saya sebagai teman seperjuangan," terangnya.

Meski Moskow tak merestui, pemberontakan PKI pada 1926-1927 tetap dilaksanakan. Hasilnya sesuai prediksi Tan Malaka . Pemberontakan di Banten pada 1926 dan Sumatera Barat pada 1927 gagal total.

Belanda dengan mudah dapat mematahkan pemberontakan yang tak terkoordinir dengan baik itu. 1.300 anggota PKI Banten ditangkap.

Dari jumlah tersebut, empat orang divonis mati, sembilan orang divonis seumur hidup, dan 99 orang dibuang ke Boven Digul, termasuk para ulama PKI Banten, seperti Tubagus KH Achmad Chatib, Tubagus H Abdulhamid, KH Mohammad Gozali, Tubagus KH Abdul Hadi, Puradisastra (kakak Sukaesih), Alirachman (Aliarcham), dan Tubagus Hilman.

Setelah pemberontakan itu, dunia pergerakan di Banten semakin sulit. Belanda semakin ketat mengawasi warga dan aktivitas sosial serta politik.

Meski telah dikhianati, Tan Malaka tetap menghargai Alimin. Namun, setelah peristiwa itu Tan Malaka hanya menganggap Alimin sebagai teman untuk bergembira dan bergaul.

"Alimin masih saya hargai. Tetapi sebagai teman seperjuangan saya sangsikan kejujurannya" pungkasnya. [dan]

Topik berita Terkait:
  1. Tan Malaka
  2. Bulan Tan Malaka
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini