Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII

Senin, 10 Juni 2019 06:05 Reporter : Ramadhian Fadillah
Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII Kahar Muzakkar. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Di perkotaan dan desa-desa suara takbir bergema mengiringi Hari Raya Idul Fitri. Namun tidak bagi para prajurit yang bertugas di tengah belantara Sulawesi kala itu.

Tepat pada 3 Februari 1965, pasukan TNI melakukan pengepungan di sebuah hutan Sulawesi dekat Sungai Lasolo. Perintah operasi penyergapan ini dilakukan oleh Asisten Operasi dan Asisten Intelijen di bawah pimpinan Kolonel Inf Solichin GP dan diberi nama Operasi Kilat. Targetnya menangkap hidup atau mati Kahar Muzakar, Imam Republik Persatuan Islam Indonesia, bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang sudah memberontak 14 tahun melawan pemerintah.

Pengepungan dilakukan dengan taktik tapal kuda, langkah ini dilakukan untuk mencegah Kahar Muzakkar kabur. Dalam rencana ini, sejumlah unit pasukan dari Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S Memed digerakkan menuju lokasi, 4 kompi Kujang I ditugasi menyisir Sektor B dari selatan dan tenggara. Sedang Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar Sumarsana berada di Sektor B.

Kehadiran Pasukan Kujang dari Siliwangi ini memang diminta khusus oleh Panglima Kodam Hassanudin Kolonel M Jusuf. Pasukan Siliwangi sebelumnya telah menangkap Kartosoewirjo, Imam Besar DI/TII di Jawa Barat dan mengakhiri pemberontakan selama belasan tahun itu. Sebagai Kepala Staf Operasi Kilat ditunjuk Kolonel Solichin GP, seorang perwira senior dari Siliwangi.

Kolonel Solichin GP menggunakan taktik yang sama dengan saat mengalahkan DI/TII di Jawa Barat. Dia yakin simpati rakyat bisa direbut karena kerusakan yang ditimbulkan Kahar Muzakkar sama dengan Kartosoewirdjo di Jawa Barat. Rakyat tak mendukung mereka lagi karena seringnya gerombolan ini melakukan aksi teror. Walau begitu tetap saja ada beberapa perubahan strategi di lapangan karena anak buah Kahar memiliki kemampuan tempur dan persenjataan yang lebih baik.

Namun satu hal yang membuat Pasukan Siliwangi bisa diterima oleh Rakyat Sulawesi adalah karena pembawaan alamiah mereka. Anggota pasukan ini dikenal taat salat berjamaah dan berkumpul dalam mushola bersama warga desa. Hal ini cocok dengan kebiasaan masyarakat setempat yang religius. Banyak warga yang sadar dan meninggalkan kelompok DI/TII.

1 dari 3 halaman

Pasukan TNI Makan Daun

Sejak tahun 1964, perburuan pada Kahar Muzakkar makin gencar. Namun faktor sulitnya menembus belantara hutan Sulawesi menjadi penghalang pasukan TNI menangkap Kahar. Walau begitu posisinya makin lemah karena banyak pengikut yang menyerah. Termasuk istri Kahar yang bernama Andi Rawe.

Pada Januari 1965, tim RPKAD menangkap seorang perwira kepercayaan Kahar. Dia mengungkap Kahar berada di sekitar Sungai Lasolo.

Mayor Yogie S Memet memerintahkan pasukannya bergerak. Salah satunya adalah Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar yang mulai bergerak sejak 27 Januari 1965. Pasukan ini hanya dibekali logistik untuk empat hari. Seharusnya sudah kembali ke markas mereka tanggal 31 Januari. Namun Peltu Umar menemukan petunjuk baru, dan memutuskan terus bergerak mengejar Kahar. Karena logistik sudah habis, pasukan terpaksa makan dedaunan untuk bertahan hidup.

Upaya mereka menyusuri Sungai Lasolo tidak sia-sia. Tanggal 1 Februari 1965, mereka menangkap menteri kesehatan RPII dan sejumlah simpatisan Kahar Muzakkar. Pasukan makin yakin posisi Kahar sudah dekat.

Tanggal 2 Februari, pasukan Siliwangi melihat seorang menggunakan rakit dengan membawa senjata. Pengintaian membawa mereka ke sebuah tempat dengan beberapa bivak atau tempat berlindung di tengah hutan. Namun Peltu Umar meminta anak buahnya tak bergerak.

Dia kemudian mengoordinasikan pasukannya untuk mengepung dan menutup jalur pelarian. Umar yakin target mereka adalah Kahar Muzakkar setelah mendengar sayup-sayup lagu 'Kenang-kenangan' yang merupakan lagu kegemaran Kahar.

2 dari 3 halaman

Pertempuran di Hari Raya

Album Kenangan Kodam Siliwangi

Tanggal 3 Februari 1965 dini hari, tepat di hari Raya Idul Fitri, Peltu Umar memerintahkan 30 prajuritnya menyeberang sungai. Sementara empat orang prajurit berjaga di seberang sungai mencegah kahar melarikan diri.

Saat matahari mulai terbit, Kopral Satu Ili Sadeli mendengar suara radio di balik rimbunan pepohonan, dia lantas mendekati sumber suara tersebut. Dari informasi saat itu, Kahar melarang warga yang berada di daerah kekuasaannya memiliki sebuah radio, kecuali dirinya sendiri. Suara tersebut ternyata berasal dari sebuah rumah.

Saat mendekati rumah itu, Sadeli memergoki seseorang yang sedang keluar dari rumah sembari membawa tas. Saat berpapasan, pria tersebut mencoba kabur, secara reflek Sadeli melepaskan tiga tembakan dari senapan Thompsonnya dan lelaki itupun tersungkur di tanah.

Saat diperiksa, laki-laki ini ternyata memakai jam tangan bermerek Titus, terselip pulpen Pelican di balik kantong bajunya. Selain Titus dan Pelican, Sadeli menemukan uang tunai sebesar Rp 65.000, jumlah yang amat besar saat itu. Dia mulai sadar, laki-laki ini adalah Kahar Muzakkar, buronan paling dicari oleh pemerintah.

Segera setelah memeriksanya, Sadeli segera melaporkan hasilnya ke pusat komando. Mayat Kahar lantas dibawa helikopter menuju Makassar untuk identifikasi. Untuk memastikannya, TNI AD hanya mengizinkan istri dan kedua anaknya untuk melihat mayatnya secara langsung, dan kepastian ini didapat dari putranya Abdullah.

3 dari 3 halaman

Dikenali dari Gigi Emas dan Celana Dalam

Panglima Kodam Hasanuddin Kolonel M Jusuf mempersilakan warga yang ingin melihat jenazah Kahar Muzakkar. Dia memastikan yang tewas benar-benar adalah Kahar. Selain wajah, Kahar bisa dikenali lewat tiga ciri penting.

Pertama adalah tahi lalat, lalu gigi emas dan celana dalam yang dibordir dengan inisial KM. Dari informasi yang didapat Jusuf, Kahar tak mau memakai sembarang celana dalam kecuali yang dibordir oleh istri keempatnya.

Setelah warga melihat, Jenazah Kahar langsung dikubur di lokasi yang sangat dirahasiakan, tak seorang pun yang tahu lokasinya, termasuk keluarganya sendiri. M Jusuf tak pernah mau menceritakan di mana jenazah Kahar dimakamkan. Rahasia ini terkubur saat M Jusuf yang kelak menjadi Panglima TNI meninggal tahun 2004. [ian]

Baca juga:
Banten Punya Banyak Narasi untuk Menjadi Tujuan Wisata Sejarah
Candi Muara Takus Saksi Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
Sarinah, Saksi Bisu Kericuhan 22 Mei dan Sosok Perempuan Dihormati Soekarno
Alquran Kuno Kampung Bugis, Jejak Sejarah Islam di Pulau Dewata
BPCB Jateng Temukan Arca Peninggalan Abad ke-9 di Candi Plaosan Klaten
Keranda Legendaris dari 1929 di Denpasar, Tak Ada yang Tahu Sejarahnya

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini