Kisah kesederhanaan Jenderal Pranoto bikin anak buah menangis
Merdeka.com - Banyak sisi menarik Mayjen Pranoto Reksosamodra. Rekan-rekan sesama perwira TNI AD mengingat sosoknya sebagai perwira yang sederhana.
Pranoto pernah menegur sejumlah rekannya yang hobi pesta dan dansa-dansi. Pada tahun 1950an akhir hingga 1960an awal, para perwira TNI AD yang baru pulang dari pendidikan militer di luar negeri sering bergaya hidup ala Barat.
"Pak Pran merasa pesta-pesta itu tidak cocok dilakukan oleh perwira TNI yang harusnya memberi contoh pada anak buahnya," kata Imelda Bachtiar saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.
Imelda Bachtiar adalah penyunting buku catatan harian Jenderal Pranoto Reksosamodra yang diterbitkan Kompas tahun 2014.
Imelda menambahkan sosok jenderal asal Bagelen, Purworejo ini sangat menjunjung budaya Jawa. Dia merasa tak pantas ada pesta dansa sampai tukar pasangan dengan wanita yang bukan istrinya.
"Dia pernah menegur beberapa perwira TNI tentang pesta dansa. Pak Pran merasa tak pantas," keta Imelda.
Dari catatan-catatan pribadinya, Pranoto juga orang yang rendah hati. Tak pernah menonjolkan diri dan tak berambisi seperti kebanyakan perwira militer saat itu.
Imelda melakukan riset saat menyunting catatan Jenderal Pranoto. Dia mengunjungi tangsi militer Kotabaru yang sekarang menjadi Korem Yogyakarta. Di sana dia menemukan seorang mantan anak buah Pranoto saat perang kemerdekaan.
"Bapak tua itu menangis. Dia bilang Pak Pran itu komandan saya yang paling baik. Dia tulus, tanpa pamrih," tutur Imelda. (mdk/ian)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya