Hot Issue

Kisah Bu Yul Meninggal dan Kelaparan di Negeri yang Ramah dan Berjiwa Sosial

Selasa, 21 April 2020 09:48 Reporter : Supriatin
Kisah Bu Yul Meninggal dan Kelaparan di Negeri yang Ramah dan Berjiwa Sosial Warga Serang Minum Air Galon. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 membuat perekonomian dunia menurun. Indonesia ikut terdampak. PHK dimana-mana, perusahaan kesulitan membayar gaji pegawainya. Warga yang semula bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini harus berdiam diri di rumah.

Ditambah pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), aktivitas warga di luar rumah sangat dibatasi. Akibatnya, warga tak bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kisah pilu dialami keluarga Yuli, warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan Serang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Wanita yang akrab disapa Bu Yul ini meninggal dunia pada Senin (20/4) pukul 15.30 WIB.

Tiga hari sebelum Bu Yul mengembuskan napas terakhir, ia sempat bercerita mengenai kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan selama dua hari, Bu Yul dan keempat anaknya tidak bisa makan. Untuk menahan rasa laparnya, ia bersama keluarganya hanya minum air galon isi ulang.

"Dua hari ini kami cuma minum air galon isi ulang. Anak-anak bilang lapar juga, paling minum air saja," katanya saat ditemui, Jumat (17/4).

Dia mengaku sempat mengadu kepada Rukun Tetangga (RT) setempat untuk meminta bantuan sembako. Namun pihak aparatur pemerintah tersebut menyatakan belum menerima ada bantuan.

"Saya sudah datang ke RT. Katanya enggak bisa dapat bantuan," ungkapnya.

Untuk menyambung hidup, sang suami kerap mencari barang bekas, yang bisa membawa uang ke rumah kisaran Rp25 - Rp30 ribu.

"Lumayan saja, satu hari kadang dapat Rp25-30 ribu. Beli beras satu liter untuk kami berenam, itu pun diirit-irit," ujarnya.

Sebelum ada virus Corona, kehidupan Yuli terbantu oleh anak sulung yang telah bekerja. Namun, harapan itu musnah, lantaran anaknya sudah tidak bekerja karena dirumahkan pihak perusahaan.

"Tadinya anak saya kerja. Sekarang dirumahkan karena tempat kerjanya tutup. Tambah, gaji terakhir tidak diberikan," tuturnya.

1 dari 4 halaman

Meninggal Dunia

Tiga hari berselang curhatnya kesulitan makan. Bu Yul dikabarkan meninggal dunia, Senin (20/4). Camat Serang, Tb. Yassin membenarkan kabar duka tersebut.

Dia mengatakan, Yuli dinyatakan meninggal pada pukul 15.30 WIB. "Infonya saya dari Pak Lurah, melalui telepon. Saya setengah empat ke lokasi (rumah almarhum)," ujarnya.

Yasin mengaku belum tahu pasti penyebab meninggalnya salah satu warga Kota Serang tersebut. Namun dia mendapatkan informasi, Yuli meninggal saat akan dibawa menuju Puskesmas Singandaru.

"Saya kurang tahu itu karena apanya. Yang saya tahu itu ketika almarhum sedang dibawa ke Puskesmas Singandaru, sebelum sampai sudah tidak ada nyawa," katanya.
Yassin mengungkapkan, dia sempat mendatangi rumah Yuli, Minggu (19/4). Saat itu kondisi Yuli masih bugar.

"Segar kok. Sempat berbicara, sempat foto. Minggu, Senin kemudian, saya dapat kabar dari Pak Lurah, yang bersangkutan sudah di puskesmas Singandaru dan kondisi sudah meninggal," ucapnya.

2 dari 4 halaman

Janji Pemerintah untuk Keluarga Miskin

Kisah sedih keluarga Yuli mengingatkan kita pada keputusan pemerintah pusat untuk menggelontorkan dana senilai total Rp 405,1 triliun untuk penanganan pandemi Covid-19.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati kemudian berjanji untuk membagikan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp600.000 per bulan kepada seluruh masyarakat berpenghasilan rendah yang terdampak virus corona di wilayah Jabodetabek.

Penerima BLT ini diklaim Sri Mulyani di luar dari Program Keluarga Harapan (PKH) dan bansos BPNT atau Kartu Sembako. Sementara keluarga Yuli sama sekali tak mendapatkan bantuan dari pemerintah hingga akhirnya meninggal.

"BLT sesuai arahan bapak presiden Rp600.000 per keluarga per bulan untuk 3 bulan," kata Menteri Sri Mulyani usai rapat terbatas di Jakarta, Selasa (7/4).

Ia merinci, untuk di DKI Jakarta sendiri, BLT akan diberikan kepada 2,51 juta warga atau jika dikonversikan mencapai 1,2 juta keluarga. Sementara untuk daerah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi atau Bodetabek, BLT akan disalurkan kepada 1,64 juta warga. Atau jika dikonversi terdiri dari 576.000 keluarga.

"Jadi keseluruhan Jabodetabek adalah 2,5 juta plus 1,6 juta jiwa kalau dikonversi jadi keluarga itu 1,7 juta," kata Sri Mulyani.

Bendahara Negara ini menambahkan, untuk pemberian BLT di luar Jabodetabek juga akan dilakukan. Adapun penambahan akan diberikan kepada 9 juta warga. Kendati begitu, data penerimaan masih dilakukan oleh pemerintah.

3 dari 4 halaman

Insentif Kartu Pra Kerja

Tak hanya BLT, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah berjanji akan menaikkan insentif penerima kartu pra kerja yang mulanya Rp650.000 menjadi Rp1 juta selama 4 bulan ke depan. Pemerintah, kata dia, telah mengalokasikan anggaran Rp10 triliun untuk kartu pra kerja.

"Sehingga nanti setiap peserta kartu pra kerja akan diberikan honor insentif Rp1 juta per bulan selama 3 sampai 4 bulan," ujar Presiden Jokowi saat video conference dari Istana Merdeka Jakarta, Selasa (24/3).

"Alokasi anggaran yang disediakan di dalam kartu pra kerja ini sebesar Rp10 triliun," sambungnya.

Jokowi menyatakan akan mempercepat penyaluran kartu pra kerja. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi para pekerja yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pandemi Covid-19.

"Untuk mengantisipasi para pekerja yang terkena PHK, para pekerja harian yang kehilangan penghasilan, para pengusaha mikro yang kehilangan pasar dan omset agar dapat meningkatkan kompetensi dan kualitas SDM-nya," jelas dia.

4 dari 4 halaman

RI Dikenal Ramah dan Dermawan

Di tengah kabar meninggalnya Yuli karena imbas sulitnya perekonomian di tengah pandemi Covid-19, predikat Indonesia sebagai negara paling ramah dan dermawan di dunia dipertanyakan. Sebab, sebagai negara ramah, seharusnya sesama warga bisa saling membantu untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah bencana nasional ini.

Pada 2019 lalu, survei Expat Insider menempatkan Indonesia pada posisi ke-8 dari total 46 negara dalam daftar subkategori negara paling ramah. Survei yang dilakukan InterNations dari 7 sampai 28 Maret 2019 itu mencakup kualitas hidup, kemudahan tinggal, keuangan pribadi, peluang karir, dan jaminan hidup berkeluarga, keramahan, kemudahan menemukan teman, dan kemudahan bahasa.

Predikat yang sama diraih Indonesia pada tahun 2018, 2014 dan 2012. Pada 2014, Indonesia menduduki peringkat 10 negara yang mudah bagi pendatang untuk mencari teman.

Sementara pada tahun 2017, survei World Giving Index Report menunjukkan Indonesia masuk pada posisi kedua negara paling dermawan setelah Myanmar. Indonesia meraih skor 46% untuk kemauan menolong orang asing. Indonesia juga tercatat meraih skor 79% untuk indikator kemauan mendonasikan uang. [rnd]

Baca juga:
Mensos Soal Ibu Yul 2 Hari Cuma Minum Air: Pemda Harus Jadi Garda Terdepan Warga!
Desmond Gerindra: Jangan Sampai Kisah Bu Yul Kembali Terulang
Warga Serang 2 Hari Cuma Minum Air Galon, DPR Tegaskan 'Ini Cambukan buat Pemda'
Ibu Yul Kelaparan dan Meninggal, PDIP Minta Pemda Bergerak Cepat
Berikut Daftar Daerah Prioritas Penerima BLT dari Dana Desa Rp22 T
Tolong, Perempuan Ini Butuh Biaya Mengobati Kelainan Mata Bayinya
Kisah Bapak 7 Anak Keliling Jual HP Rusak Rp10 Ribu Buat Beli Beras Saat Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini