Kisah ajudan Letkol Untung disiksa dan dipenjara tanpa pengadilan

Senin, 3 Oktober 2016 00:01 Reporter : Chandra Iswinarno
Kisah ajudan Letkol Untung disiksa dan dipenjara tanpa pengadilan Sertu Ishak Bahar Ajudan Letkol Untung. ©2016 Merdeka.com/Chandra Iswinarno

Merdeka.com - Ketika pagi mulai menjelang di Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965, 14 truk berisi rombongan prajurit penjemput para jenderal kembali. Ajudan Letkol Untung Samsuri, Sersan Ishak Bahar yang masih berada di mobil bersama sopir Slamet Sungkono dikagetkan dengan kedatangan rekannya, Dikin membawa petugas polisi.

"Saat itu Dikin bertugas sebagai penunjuk jalan penjemput Panjaitan, bertemu saya. Dia kemudian bilang kepada saya, 'Mas Is ini dianu saja ya'. Saat itu saya langsung, 'ehm iya. Saya iya iya saja," kata pria yang pernah aktif dalam organisasi pemuda Masyumi sebelum memutuskan masuk militer tahun 1956 itu.

Dari situ, ia mengetahui kalau yang dititipkan kepadanya dari Dikin adalah anggota polisi bernama Soekitman Agen Polisi tingkat II. Dari penuturan Soekitman, Ishak mengetahui penyebab dibawa anggota polisi yang kerap disebut sebagai saksi mata peristiwa G30S tersebut.

"Saya tanya ke Pak Kitman, 'ada apa?', dia bilang saat itu sedang patroli dan terus dibawa pasukan ke sini (Lubang Buaya). Terus saya bilang, 'oh ya sudah di sini saja'," kata Ishak meniru.

Selama peristiwa tersebut, Ishak mengemukakan, Soekitman tetap bersamanya di dalam mobil dan tidak pergi ke mana-mana. Padahal saat itu, jelas Ishak, rekan-rekannya mengatakan agar Soekitman ikut dihilangkan nyawanya.

"Wong waktu ada yang bilang mau dibunuh, sama saya enggak boleh. Yang cegah ya saya. Padahal, maunya teman-teman supaya dibunuh, tapi sama saya enggak boleh," tegasnya.

Ia sendiri menyayangkan beberapa fakta yang menurutnya sudah tidak sesuai dengan kondisi yang terjadi pada malam itu. Hal itu, katanya, merujuk pada salah satu acara diskusi dalam tayangan televisi, beberapa waktu lalu.

"Ada seorang peserta yang bilang kalau Pak Kitman itu berhasil lolos melarikan diri. Padahal, sebenarnya tidak seperti itu," ucapnya.

Pada akhirnya, Kitman bersama dirinya serta Slamet dan Kasim bersama-sama kembali ke istana setelah beristirahat di dekat lapangan udara Halim Perdanakusuma. Setelah dibujuk untuk kembali ke istana oleh Kapten Sulistyo, mereka bersama rombongan truk penjemput pasukan Cakrabirawa kembali ke istana.

"Nah sampainya saya di Istana, kami kemudian ditahan di mes Cakrabirawa," ujarnya.

Namun tak lama, Soekitman diminta ke markas besar TNI untuk menunjukkan lokasi dalam peristiwa dikuburnya tujuh pahlawan revolusi tersebut. Sementara, nasib Ishak dan kawan lainnya berkebalikan, mereka dibawa ke Guntur untuk menjalani pemeriksaan soal peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) atau Gerakan Satu Oktober (Gestok).

"Saya pulang ke Istana, kemudian pada tanggal dua (Oktober) malam saya diambil CPM (Corps Polisi Militer) dibawa ke Guntur. Tetapi Kitman dibawa ke Mabes untuk menunjukkan lokasi. Saya tahunya itu, tiba-tiba sampai di Guntur," jelasnya.

Sejak itu, Ishak menjalani hari-hari yang menyiksa sepanjang hidupnya lantaran dianggap terlibat dalam gerakan kudeta gagal yang dilakukan satuannya. Penyiksaan dilakukan sebagai tahanan militer seperti yang digambarkan dalam buku-buku tentang penyiksaan tahanan politik '65 di masa Orde Baru.

"Selama 13 tahun saya dipenjara tanpa melalui persidangan. Saya langsung dijebloskan ke penjara. Satu-satunya hal yang meringankan saya saat itu adalah kesaksian dari Kitman (Soekitman). Dia bersumpah, kalau saya bersama dia selama di Lubang Buaya dan (saya) tidak mengetahui apa-apa," tuturnya.

Dikemukakan Ishak selama dipenjara, perlakuan yang didapatkannya tidak bisa dikategorikan manusiawi. Saat berada di penjara Salemba, ia menuturkan kerap mendapat makanan berupa biji jagung yang disebar.

"Kayak ngasih makan burung, saya kemudian mengambil bijinya satu per satu untuk dimakan dari lantai. Kalau mau minum, diambilkan air dari sungai kemudian ditaruh di ember dan kami menyedotnya lewat dahan pepaya," ucapnya.

Diakuinya, selama di penjara menjadi pengalaman yang tak akan pernah dilupakan selama hidupnya. Bahkan, berat badannya turun drastis dari 70 kilogram tersisa hanya 40-an kilogram.

"Sekeliling saya sudah tidak sehat sekali, bayangkan Rumah Tahanan Salemba yang kapasitasnya hanya untuk 500 orang, saat itu diisi 2 ribuan orang. Setiap hari, pasti ada saja yang meninggal terkena penyakit mulai disentri hingga lainnya," ujarnya.

Selama di Salemba tersebut, ia mengaku kemudian mempelajari ilmu agama yang pernah didapatnya dari pesantren sebelum masuk ke dunia militer. Selama di Salemba, ia mengaku bertemu dengan orang-orang yang dianggapnya mumpuni secara keilmuan agama dan pengetahuan umum.

"Saya waktu itu sekamar dengan Pramoedya Ananta Toer, itu orang seniman. Selain itu saya bergaul dengan wartawan, Ketua PWI saat itu Karim DP. Selain itu, saya juga memperdalam ilmu agama dari buku-buku yang dikirimkan Hamka," ucapnya.

Usai bebas dari penjara Orde Baru pada 28 Juli 1978, ia pun memulai hidup baru dengan bekerja menjadi tani di Purbalingga. Padahal, katanya, ia pernah ditawari menjadi pengurus masjid di wilayah Kebayoran Baru, tetapi ditolaknya. "Saya inginnya pulang ke Purbalingga dan hidup di sini," ucapnya.

Menjadi bekas tahanan politik, apalagi dinyatakan terlibat G30S, memiliki dampak yang luar biasa dalam hidupnya. Selama dua tahun pertama, ia kerap mendapatkan olok-olok dan dicap PKI.

"Latar belakang saya ini Masyumi dan lulusan pesantren, jadi aneh saja kalau ada yang bilang saya PKI. Bahkan, ada bekas anak didik saya di pesantren yang heran kalau saya dicap PKI," ungkapnya.

Hingga kini, Ishak menjalani masa tuanya dengan istri di salah satu bilangan Purbalingga. Saat ini, ia menjadi imam masjid di dekat rumahnya. "Saya saat ini menjadi imam Masjid As Sobari di Purbalingga," tandasnya. [did]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini