Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ki Manteb kritik pemerintah cuek pada pelestarian wayang

Ki Manteb kritik pemerintah cuek pada pelestarian wayang Hari Wayang Dunia. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Dalang wayang kulit senior, Ki Manteb Sudharsono menilai pemerintah belum hadir dan turun tangan untuk membantu melestarikan wayang di Indonesia. Padahal UNESCO, pada tanggal 7 November 2003 telah mengakui wayang sebagai 'master piece' warisan budaya dunia dan tanggal 7 November akhirnya ditetapkan sebagai Hari Wayang Dunia.

"Sangat disayangkan ini yang masih mengganjal sampai sekarang, pemerintah kok tidak pernah cawe-cawe (tidak ikut peduli). Alangkah baiknya, kalau pemerintah mulai dari presiden, DPR, bupati, wali kota, semuanya menggelar pertunjukan wayang pada peringatan hari wayang ini. Ini Hari Wayang Dunia, bukan hanya Indonesia," ujar Ki Manteb kepada wartawan di sela-sela peringatan Hari Wayang Dunia 2016, di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Jawa Tengah, Senin (7/11).

Ki Manteb yang juga menjadi pelaku saat wayang ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia tersebut sangat menyayangkan sikap pemerintah yang tidak peduli dengan wayang.

"Sangat jarang sekali, bahkan hampir tidak ada yang menggelar pertunjukan wayang. Pemerintah tidak peduli, yang masih biasa nanggap wayang hanya Pak Tjahjo Kumolo (Mendagri)," sesalnya.

Untuk bisa memajukan wayang, kata dia, dibutuhkan kerjasama dari tiga pihak. Selain pemerintah yang peduli, dalang yang mengerti kondisi juga dibutuhkan peran masyarakat yang ikut mendukung. Apalagi saat ini regenerasi dalang di Indonesia sudah sangat bagus, mulai dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi.

Rektor ISI Solo, Prof Dr Sri Rochana Widyastutieningrum, mengatakan peringatan Hari Wayang Dunia yang digelar di ISI Solo sebagai salah satu upaya menjaga dan melestarikan wayang.

"Tema yang diangkat dalam Hari Wayang Dunia 2016 ini adalah Wayang Cermin Kehidupan. Tema itu berdasarkan pemikiran bahwa wayang merupakan refleksi kehidupan manusia. Banyak karakter dalam wayang yang pantas dan tidak pantas diteladani," katanya.

Terkait regenerasi dalang, dia menilai sudah bagus. Dalam satu tahun, lanjut dia, di ISI bisa meluluskan lima sampai 10 mahasiswa jurusan pedalangan. Sedangkan kuota jurusan pedalangan di ISI Solo setiap tahun sebanyak 25 kursi.

Peringatan Hari Wayang Dunia di ISI yang dibuka Direktur Kemahasiswaan, Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, Didin Wahidin, tersebut digelar pertunjukan wayang 24 jam non stop dari puluhan dalang. Mereka akan mendalang di empat panggung secara bergantian. Tidak hanya wayang kulit, tapi juga wayang beber, wayang wahyu, wayang golek, wayang orang serta wayang kolaborasi. (mdk/dan)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP