Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ketum PBNU soal ucapan Trump: Jangan-jangan memancing agar Islam radikal ada lagi

Ketum PBNU soal ucapan Trump: Jangan-jangan memancing agar Islam radikal ada lagi Ketua PBNU Said Aqil Siradj. ©2014 merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, menilai ucapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel bentuk strategi memunculkan kembali Islam radikal.

Padahal, dalam pandangannya, kelompok Islam radikal kali ini sedikit agak mereda, namun Trump coba bangkitkan kembali agar nama baik Islam tercoreng.

"Jangan-jangan Trump ini juga memancing agar kelompok Islam radikal ada lagi. Al Qaidah sudah surut, ISIS sudah reda, jangan-jangan gitu," kata Said Aqil di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (15/12).

Selain mencoreng nama baik umat muslim, dia juga menilai Trump seperti memunculkan para teroris baru.

"Terakhir teroris ISIS lagi karena ISIS sudah surut. Kemudian diharapkan ada Islam terorisme muncul lagi. Karena Al Qaidah sudah surut. ISIS sudah berantakan. Jangan-jangan gitu. Nanti ada alasan minimal mencoreng agama Islam dan umat Islam," tambah Said Aqil.

Dia sayangkan, keputusan sepihak yang dilakukan Trump bukan hanya berdampak pada agama. Tetapi berdampak pada sisi kemanusiaan. Trump, menurutnya, telah mencoreng keputusan resolusi PBB.

"Ini bukan masalah agama. Semata-mata masalah perikemanusiaan dan hak azasi orang banyak. Dan hak kedaulatan dan menginjak-injak keputusan resolusi PBB," ungkap Said.

Said Aqil berharap apa yang diucapkan Trump menjadi tantangan untuk dunia agar tetap bersatu dan tidak mudah terpecah.

"Jadi ini merupakan tantangan kepada dunia. Masih ada penjajahan yang terang-terangan. Kita harus terus bersatu," tegas Said Aqil.

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP