Ketika para tokoh tolak revisi UU KPK
Merdeka.com - Dukungan agar DPR tidak merevisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus berdatangan. Para akademisi, ulama dan budayawan memberikan support terhadap KPK yang tengah dilemahkan oleh pihak-pihak tertentu.
Beberapa tokoh itu diantaranya yakni rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Pakar hukum pidana J.E Sahetapy, adik kandung Gus Dur, Gus Sholah, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat, Guru Besar UI Hikmahanto Juwana, dan sastrawan Taufik Ismail.
Mereka datang atas undangan KPK untuk berdiskusi dengan pimpinan. Menurut Gus Sholah, kinerja KPK selama ini sudah bagus. KPK terbukti bisa menjebloskan para koruptor ke penjara.
"Justru ini harus ditingkatkan, bukannya diperlemah. Meningkatkannya paling tidak dengan menambah jumlah personel, menambah ruangan kerja dan anggaran," ujar Gus Sholah usai berdiskusi dengan Pimpinan KPK, Senin (1/10) malam.
Anies Bawedan mengatakan, terdapat semacam upaya sistematis yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk melakukan delegitimasi KPK. Hal ini membuat mantan Juru Bicara Tim 8 itu merasa prihatin.
"Semakin mereka teruskan usaha dalam pemberantasan korupsi, maka upaya delegitimasi itu makin kuat. Yang saya khawatirkan bukan saja delegitimasi dalam soal aturan hukumnya, tetapi bila benar-benar ada penarikan dari sisi sumber daya manusia," ujarnya.
Sementara itu, Komarudin Hidayat menyatakan jika KPK sampai kalah dan berhasil dilemahkan, maka hal itu berarti rakyat Indonesia kalah.
"Bangsa dan masyarakat hancur karena korupsi. KPK dibentuk buat menggerakkan lembaga lain yang selama ini dianggap tidak efektif memberantas korupsi. Tetapi, KPK malah digerogoti oleh mereka yang terancam. Kalau KPK kalah, maka rakyat kalah," ujar Komarudin. (mdk/did)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya