Kesibukan para pendiri bangsa menjelang 17 Agustus 1945

Rabu, 15 Agustus 2018 06:40 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Kesibukan para pendiri bangsa menjelang 17 Agustus 1945 soekarno merah putih. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Tepat 17 Agustus, Indonesia memperingati hari kemerdekaan yang ke 73. Banyak kejadian penting dilalui Indonesia selama masa penjajahan Belanda 350 tahun, dan penjajahan Jepang selama 3,5 tahun.

Soekarno salah satu tokoh pendiri bangsa. Ia adalah Presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah sang proklamator.

Tak hanya Soekarno, ada juga tokoh pendiri bangsa lain. Inilah cerita kesibukan para pendiri bangsa menjelang kemerdekaan 17 Agustus:

2 dari 5 halaman

Menyiapkan naskah proklamasi

proklamasi rev1naskah proklamasi. ©2014 Merdeka.com

Momentum Indonesia jelang kemerdekaan adalah persiapan naskah proklamasi. Golongan muda dan golongan tua berkumpul di Jalan Imam Bonjol No 1 untuk merundingkan penyusunan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang berlangsung pukul 02.00 - 04.00 dini hari. Teks proklamasi ditulis di ruang makan laksamana Tadashi Maeda saat itu.

Para penyusun teks proklamasi itu adalah Soekarno, Moh. Hatta, dan Mr. Ahmad Soebarjo. Konsep teks proklamasi ditulis oleh Soekarno sendiri. Di ruang depan, hadir B.M Diah, Sayuti Melik, Sukarni, dan Soediro. Sukarni mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi itu adalah Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Teks Proklamasi Indonesia itu diketik oleh Sayuti Melik. Pagi harinya, 17 Agustus 1945, di kediaman Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 telah hadir antara lain Soewirjo, Wilopo, Gafar Pringgodigdo, Tabrani dan Trimurti. Acara dimulai pada pukul 10.00 dengan pembacaan proklamasi oleh Soekarno dan disambung pidato singkat tanpa teks.

3 dari 5 halaman

Menjahit bendera merah putih

merah putih rev1Proklamasi RI. ©2016 Merdeka.com

Bendera Merah Putih yang menjadi lambang negara Indonesia dijahit oleh Fatimah, istri Soekarno. Bendera dikibarkan, disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Pada awalnya Trimurti diminta untuk menaikkan bendera, namun ia menolak dengan alasan pengerekan bendera sebaiknya dilakukan oleh seorang prajurit. Oleh sebab itu ditunjuklah Latief Hendraningrat, seorang prajurit PETA, dibantu oleh Soehoed untuk tugas tersebut.

Seorang pemudi muncul dari belakang membawa nampan berisi bendera Merah Putih (Sang Saka Merah Putih), yang dijahit oleh Fatmawati beberapa hari sebelumnya.

4 dari 5 halaman

Menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya

kebangsaan indonesia raya rev1proklamasi. ©2012 Merdeka.com/dok

Lagu kebangsaan Indonesia Raya diperdengarkan saat Kongres Pemuda II di Batavia, (Jakarta saat ini). Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po, sedangkan rekaman pertamanya dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Yo Kim Tjan.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein.

Namun mereka tetap menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

5 dari 5 halaman

Menciptakan Undang-Undang Dasar 1945

undang dasar 1945 rev6Soekarno. ©Deppen/Cindy Adams

Sehari setelah kemerdekaan RI, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945, menyusun rancangan UUD 1945. Pada masa sidang pertama yang berlangsung dari tanggal 28 Mei hingga 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasan tentang "Dasar Negara" yang diberi nama Pancasila.

Pada 22 Juni 1945, 38 anggota BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari 9 orang untuk merancang Piagam Jakarta yang akan menjadi naskah Pembukaan UUD 1945. Setelah dihilangkannya anak kalimat "dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluk-pemeluknya" maka naskah Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pengesahan UUD 1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). Nama Badan ini tanpa kata "Indonesia" karena hanya diperuntukkan untuk tanah Jawa saja. Di Sumatera ada BPUPKI untuk Sumatera. Masa Sidang Kedua tanggal 10-17 Juli 1945. Tanggal 18 Agustus 1945, PPKI mengesahkan UUD 1945 sebagai Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. [has]

Baca juga:
Meriahkan HUT RI, Merah Putih dikibarkan di Gunung Api Purba Nglanggeran
Status Gunung Merapi masih Waspada, pendaki dilarang mendaki saat HUT RI
Sambut HUT RI, Go-Jek bakal beri hadiah kepada mitra pengemudi
Siap-siap, PT KAI beri tarif promo di tanggal ini
Pertama kalinya, balapan malam hari bakal digelar di Sirkuit Sentul
Bendera Merah Putih sepanjang 1,9 KM membentang di Cadas Pangeran

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini