Imam Harianto, nelayan kawasan Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Utara, Jawa Tengah karena gelombang laut tinggi sejak Desember 2025 hingga awal Januari 2026 karena cuaca ektrem. Dampak gelombang tinggi akhirnya hasil tangkapan kerang hijau menurun drastis.
"Dua bulan aktivitas melaut saya kurangi, sebab membahayakan keselamatan. Kalau sekarang ke laut kadang dalam seminggu cuma tiga atau empat hari," kata Imam Harianto, Jumat (9/1).
Dalam kondisi cuaca normal, ia mampu mendapatkan kerang hingga 1–1,5 kuintal per hari. Namun, saat cuaca ekstrem, hasil tangkapan hanya berkisar antara 30 hingga 40 kilogram.
"Ini turun tangkapannya. Kalau cuaca ekstrem itu paling dapat 30 sampai 40 kilo. Kalau normal bisa satu kuintal sampai satu setengah kuintal,” ungkapnya.
Sedangkan untuk harga jual kerang justru mengalami kenaikan saat cuaca ekstrem. Jika pada kondisi normal harga kerang berada di kisaran Rp5.000 per kilogram, maka saat cuaca ekstrem dapat meningkat menjadi Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
"Kalau cuaca ekstrem harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000. Kalau normal sekitar Rp5.000-an,” ujarnya.
Semisal saat ombak besar datang, nelayan kesulitan mencari kerang hijau karena gelombang laut menggerus hingga ke dasar perairan. Padahal dalam keadaan itu, menyebabkan tubuh nelayan terluka saat terseret ombak dan terkena tiram.
"Luka-luka tersebut, menurut Imam, tidak hanya menimbulkan rasa perih, tetapi juga berisiko memicu penyakit dan gangguan kesehatan," jelasnya.
Dia meminta pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan yang tidak dapat melaut akibat cuaca ekstrem, terlebih karena hasil tangkapan mengalami penurunan drastis.
"Harapan nelayan ya pemerintah bisa memperhatikan. Kalau nelayan tidak bisa melaut, kasihan anak istri,” pungkasnya.