Kelestarian ujung barat Pulau Nusakambangan terancam lahan perkebunan

Senin, 1 Januari 2018 10:01 Reporter : Abdul Aziz
Kelestarian ujung barat Pulau Nusakambangan terancam lahan perkebunan Hutan Nusakambangan. ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz

Merdeka.com - Penyempitan luas hutan di Pulau Nusakambangan dari tahun ke tahun terus bertambah. Pembukaan lahan perkebunan, pembalakan liar dan pertambangan batu kapur untuk industri semen menjadi pangkal persoalan. Dikhawatirkan, jika terus terjadi pembiaran maka fungsi strategis Nusakambangan bagi kehidupan berangsur hilang.

Padahal, pulau Nusakambangan merupakan hutan alam dataran rendah terakhir di Jawa Tengah. Keberadaan Nusakambangan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia adalah benteng perlindungan (great barrier) bagi wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya dari bencana tsunami dan gelombang besar.

Humas dan Komunikasi Gerakan Penanaman Pohon Asli Nusakambangan, Elisabet Rose Rahayu mengatakan, dari survei yang dilakukan pada 2016 dan 2017, penyempitan luasan hutan utamanya di daerah penyangga cagar alam masif terjadi. Berlokasi di ujung barat pulau Nusakambangan, yakni wilayah pesisir pantai Karangjati, banyak warga datang dari wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah membuka lahan dan mengubah hutan menjadi perkebunan. Ironisnya, pohon-pohon besar ditumbangkan diubah menjadi areal sawah dan kebun kopi.

"Dampak ke depannya bisa terjadi kekeringan. Matinya sumber-sumber mata air di Nusakambangan," Kata Elisabet pada Merdeka.com di Batu Malang Nusakambangan, Mingggu (31/12).

hutan nusakambangan

Hutan Nusakambangan ©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz

Tergerak dengan alih fungsi lahan yang semakin menggerus sebagian wilayah Nusakambangan, beberapa pihak terdorong melakukan reboisasi dan restorasi. Tiga komunitas yakni Gerakan Citanduy Lestari (GCL), Save Our Nusakambangan Island (SONI) dan Komunitas Pecinta Alam Nusantara (Kopalan) menginisiasi penanaman tumbuhan jenis asli Nusakambangan. Tak tanggung-tanggung mereka mengajak 135 pecinta lingkungan untuk terlibat dalam misi menjaga kelestarian Nusakambangan.

"Kami menanam 1137 batang tumbuhan asli Nusakambangan dari bantuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Ada kurang lebih 18 jenis tumbuhan, yakni beringin, benda, laban, salam dan jambuan. Lewat gerakan ini nantinya kami juga akan melakukan monitoring serta perawatan sebagai tindak lanjut," ujar Elisabet di sela-sela kegiatan Penanaman Pohon Asli Nusa Kambangan.

Polisi Kehutanan BKSDA Jawa Tengah RKW Cilacap, Dedi Rusyanto mengatakan perubahan alih fungsi lahan di Nusakambangan memang menjadi ancaman serius. Ia mengkhawatirkan, jika terjadi pembiaran maka perusakan alam di Nusakambangan akan semakin meluas k eke wilayah cagar alam. Di Nusakambangan sendiri terdapat empat cagar alam yakni Karangbolong, Wijayakusuma, Nusakambangan Timur dan Nusakambangan Barat.

Dedi memandang, gerakan reboisasi dan restorasi menjadi upaya proteksi sekaligus pemulihan Nusakambangan dari kerusakan. Gerakan ini perlu digiatkan mengingat wilayah Nusakambangan dalam beberapa tahun terakhir tak lagi dapat dikatakan steril. Banyak masyarakat tinggal secara diam-diam di wilayah-wilayah Nusakambangan dan merusak hutan jadi perkebunan.

"Cagar alam sendiri memang 10 persen dari luasan Nusakambangan. Perusakan yang dominan terjadi di wilayah Nusakambangan Barat seiring warga yang membuka lahan," ungkapnya.

Dari pengamatan Merdeka.com di ujung barat Nusakambangan, kurang lebih 150 meter dari pesisir pantai kalijati telah berdiri gubuk-gubuk. Beberapa keluarga tinggal di pulau tersebut bertani menggarap sawah. Sebagian lain membuka perkebunan kopi.

Ironisnya, memasuki ujung barat Nusakambangan ini tak lagi terasa hutan tapi kampung. Pemandangan yang terlihat sejumlah punggung bukit gundul dan nampak sisa-sisa batang pohon yang ditumbangkan. [bal]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Perusakan Hutan
  3. Cilacap
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini