Karyawan PLN Dimakamkan di Liang Lahat yang Disiapkan untuk Ibunya
Merdeka.com - Avina Junita Fitri (25), karyawan PLN Transmisi Ungaran menjadi salah satu korban bencana tsunami Banten, pada Sabtu (22/12) lalu. Sebelum meninggal, rupanya Avina ada gelagat tak biasa yang dilakukan korban.
Hal itu diungkapkan oleh ibundanya, kepada sang adik Hesti Junita Tsani. Warga Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, itu berulang kali meminta ibundanya mengantar ke Ungaran saat berangkat kerja.
"Tumben saja pengen diantar sama ibu, bolak-balik dari Ungaran ke Pedurungan, dan juga minta dijemput. Tidak mau kalau tidak sama ibu, tapi pas tugas terakhir, dia mau saya jemput," kata Hesti saat ditemui di rumah duka, Selasa (25/12).
Dia menyebut, selama bertugas di Ungaran empat hari, usai itu almarhumah kembali tugas ke Jakarta untuk menghadiri Gathering bersama PLN yang dihadiri oleh group band seventeen. Namun musibah air bah menggulung acara tersebut dan membuat korban ditemukan meninggal dunia dalam keadaan tubuh membiru.
"Jenazah mbak Vina alami pendarahan di wajah infonya. Kami terima jenazah dan langsung dikebumikan Selasa (24/12) pukul 10.30 WIB," ujarnya.
Yang membuat miris yakni saat jenazah dikebumikan di kompleks TPU Bergota, samping makam ayahanda persis. Dimana sebenarnya tempat tersebut sudah dipesan almarhumah Vina untuk ibundanya nanti.
"Sedih memang, itu sebenarnya mbak Vina yang buat ibu. Dapat nanti bapak bisa sama ibu. Tapi malah mbak Vina yang menempati situ," jelasnya.
Saat kejadian Tsunami kakak korban berada depan panggung. Hal itu didapat dari Instagram temannya yang tidak ikut gathering.
"Informasinya mbak Vina berada depan panggung. Itu saya lihat ngepost Instagram temannya kabar baru teriak Allahhuakbar," ujarnya.
Hesti yang mengetahui kejadian itu langsung menghubungi, kakaknya. Namun karena handponenya tidak bisa dihubungi lantas mempertanyakan ke teman korban soal keberadaan kakaknya.
"Saya tanya balik ke temannya katanya habis kena tsunami. Kabar lagi dapat kalau mbak Vina belum ditemukan," jelasnya.
Mendapati kabar buruk menimpa kakaknya, ia pun bertolak ke Jakarta. Minggu pagi ia dapat kabar jika almarhumah ditemukan dan sudah diidentifikasi. Syok dapat kabar itu.
"Sebenarnya ditemukan Sabtu malam, tapi teridentifikasi itu sudah hari Minggu langsung dijemput sama keluarga ke Jakarta. Pengennya pakai cargo tapi tidak dapat, saya putuskan pakai ambulans saja," ungkapnya.

rumah duka avina junita fitri ©2018 Merdeka.com/purnomo edi
Proses pemulangan jenazah membuatnya tidak tidur dua hari. Hesti harus mengawal pemulangan jenazah kakaknya dari RS Fatmawati Jakarta Selatan sampai ke rumah menggunakan ambulans. Jarak tempuhnya hampir 10 jam.
"Pemberangkatan jenazah iring-iringan dengan rombongan asal Boyolali dan Solo. Sampai rumah langsung dimakamkan," kata Hesti.
Adik almarhumah, Hestina Junita Tsani, tidak menyangka kakaknya menjadi korban bencana tsunami di Selat Sunda. Kakaknya hampir tiga tahun bekerja di PLN Transmisi Jawa Bagian Barat. Sebuah jabatan pun telah diembannya. Terakhir almarhumah menjabat sebagai Junior Accounting. Sebelum kejadian almarhumah sempat meminta doa karena sebentar lagi akan naik jabatan.
"Dia juga bilang kalau mohon doa kalau Januari 2019 akan naik jabatan sebagai supervisor Unit PLN Jawa Bagian Barat," ujarnya.
Keinginan lain yang gagal dipenuhi almarhumah ialah berangan-angan membeli rumah sendiri. Satu impiannya paling mendalam yakni membangun rumah tangga agar dapat pindah kerja ke Ungaran, tak pernah kesampaian.
"Kakak sempat ingin beli rumah kalau nanti berkeluarga di Semarang. Kelak dapat suami bisa dipindah tugas ke Semarang. Tapi dia maunya ta'aruf, tidak mau pacaran," ungkapnya.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya