Kamera Tim Ekpedisi Tangkap Gambar Peti Muatan Kapal Van Der Wijck
Merdeka.com - Tim Ekpedisi berhasil merekam kondisi diduga bangkai kapal Van Der Wijck di laut Lamongan. Kamera penyelam menangkap kotak-kotak peti muatan kapal yang berserakan.
"Materi yang terlihat besi semua, terus ada dari kamera video menangkap kotak-kotak, peti-peti berceceran," kata Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur kepada merdeka.com, Sabtu (23/10).
BPCB Jawa Timur kembali melakukan eksplorasi dugaan lokasi tenggelamnya kapal Van Der Wijck di perairan Lamongan. Eksplorasi merupakan kelanjutan dari kegiatan Juni 2021 guna mencari keberadaan kapal yang diduga Van Der Wijck.
"Jadi kapal itu bagian teratas di kedalaman 36 meter, masih bisa dijangkau, tapi kalau bagian bawahnya itu kita tidak berani," sambungnya.
Wicaksono menceritakan, eksplorasi pada Juni lalu telah berhasil menentukan titik diduga lokasi kapal. Tetapi kondisi air laut saat itu keruh sehingga tidak mendapatkan data yang dibutuhkan baik berupa foto maupun video.
Jarak pandang waktu itu hanya sekitar 1 meter. Penyelam hanya mampu menyelam 30 meter di bawah permukaan laut. Sementara penyelaman pertengahan Oktober lalu jarak pandang sampai 3-5 meter.
"Kali ini mendapatkan bukti foto dan video bahwa memang ada kapal karam di lokasi yang kita duga sebagai lokasi tenggelamnya kapal Van Der Wijck," terangnya.
Awalnya, sonar berhasil menangkap kedalaman dasar laut sekitar 54-55 meter di bawah permukaan air. Kemudian terjadi perubahan drastis yang membentuk gunung atau bukit di bawah dasar laut yang dicurigai bangkai kapal.
"Kita melihat di kedalaman 20 meter itu tampak menghitam, terus kita turun sampai 30 meter mulai melihat jelas adanya kapal karam yang posisi body sudah ditumbuhi karang-karang," jelasnya.
Tim dapat mengidentifikasi sebuah kapal dengan bagian atasnya banyak jaring-jaring nelayan yang tersangkut. Karena memang di sekitar atas kapal banyak ikan bergerombol, sehingga kemungkinan nelayan sering berusaha mencari ikan di sekitar lokasi.
"Nah di bawahnya itu kita melihat adanya kapal yang dalam posisi miring ke utara, posisinya arah kapal barat daya-timur laut, yang miring ke arah Tenggara," tegasnya.
Tim juga merekam adanya cerobong yang mengarah ke tenggara dengan ukuran lebih dari 3 Meter. Posisi sebagian cerobong terbenam tertutup lumpur meski masih terlihat jelas.
"Kemungkinan seperempat bodi dari kapal itu sudah terpendam lumpur, sisanya masih terlihat jelas," tegasnya.
Video menangkap cukup lengkap dari sejumlah sisi kapal yakni bagian belakang, tengah dan depan. Namun, beberapa kali hasil tangkapannya buram. Hasil tangkapan bagian tengah, berhasil merekam tangga penumpang, sehingga memungkinkan kapal tersebut bukan kapal militer, tetapi kapal penumpang sebagaimana peruntukan Van Der Wijck.
"Kita menemukan adanya tangga, kalau tangganya sendiri itu tipenya ada di samping, lebih sebagai tangga penumpang. Cenderung ke kapal penumpang bukan kapal militer seperti kapal perang dunia kedua," jelasnya.
"Selain itu juga ditemukan lubang-lubang bagaian tengah cerobong, sehingga dari data ini cenderung lebih mendekati gambaran dari foto kapal Van Der Wicjk di data Belanda," sambungnya.
Namun, Wicaksono mengingatkan, temuan tersebut secara arkeologis belum dapat menjustifikasi bahwa bangkai kapal tersebut adalah Van Der Wicjk. Masih memerlukan data lebih detail untuk memastikan bangkai kapal tersebut sebagai kapal Van der Wicjk yang mengalami kecelakaan 19-20 Oktober 1936.
Menurutnya, tim membutuhkan kegiatan lanjutan dengan peralatan lebih memadai untuk merekam bagian lebih spesifik lainnya.
"Misalkan dengan drone bawah laut, sehingga mendapatkan banyak data apakah itu benar Van der Wijck atau bukan," tegasnya.
Tim telah mengumpulkan keterangan masyarakat yang menyatakan lokasi tersebut sebagai tempat tenggelamnya kapal Van der Wijck. Selain juga bukti sebuah tugu ucapan terima kasih kepada masyarakat yang telah menolong kecelakaan tersebut.
Tim telah melakukan serangkaian ekpedisi kedua selama sepekan sejak Selasa (19/10). Selanjutnya hasil ekpedisi diserahkan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan guna dikaji guna penentuan langkah lebih lanjut.
(mdk/ray)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya