Kabut Asap di Samarinda Makin Parah, Warga Sesak Napas & Tenggorokan Kering
Merdeka.com - Kabut asap akibat Karhutla di kota Samarinda, Kalimantan Timur, hari ini semakin pekat, dan kembali berdampak pada perubahan jadwal penerbangan di Bandara APT Pranoto Samarinda, disebabkan jarak pandang (visibility) terbatas kurang dari 1 kilometer. Sementara, dari kualitas udara, dinyatakan berkategori tidak sehat.
Disayangkan, meski Samarinda berselimut kabut asap Karhutla sejak dua pekan lalu dan semakin pekat siang ini, BMKG Samarinda dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, tidak memiliki peralatan untuk mengukur kualitas udara di ibu kota provinsi Kalimantan Timur itu.
Namun demikian, dari pantauan merdeka.com, mengacu indeks pencemaran di kota Samarinda pada aplikasi AirVisual, kualitas udara masuk udara yang tidak sehat. Per pukul 15.00 Wita sore ini, mencapai angka 142 US AQI (Air Quality Index) dari 76 US AQI pagi tadi.
"Ini sudah semakin pekat, udara sudah nggak sehat. Jalan pakai motor, sudah berasa sesak napas, tenggorokan kering," kata Fahmi (39), warga Jalan Ir H Juanda Samarinda, kepada merdeka.com, Sabtu (14/9).
Penelusuran merdeka.com siang ini, pekatnya kabut asap merata di seluruh wilayah Samarinda. Bahkan dari kawasan Jalan Gadjah Mada, nyaris tidak lagi bisa melihat permukiman di kecamatan Samarinda Seberang, di seberang Sungai Mahakam.
Pun demikian di kawasan Jalan Perjuangan. Dari ketinggian sekitar SMAN 10 Plus, terlihat kabut asap menutupi wilayah Samarinda Utara dan Sungai Pinang, dengan jarak pandang kurang dari 1 kilometer.
Ditemui di kantornya, Kepala Kelompok Teknis BMKG Stasiun Meteorologi Aliansyah membenarkan pekatnya kabut asap di Samarinda. Menurut dia, pekatnya asap pengaruh dari angin selatan, membawa kabut asap.
"Dari pantauan, angin selatan membawa asap diantaranya dari Kalbar (termasuk Kalteng), ke Kaltim. Kalau dari Kaltim sendiri, belum begitu banyak (kabut asap). Jadi, kita kena imbas (angin selatan)," ujar Aliansyah.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya