Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), membagikan kisah masa mudanya yang mengundang gelak tawa saat menghadiri perayaan 65 Tahun Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas).
Dalam sambutannya yang diunggah kanal YouTube MerdekaDotCom, JK bernostalgia tentang masa-masa kuliahnya di tahun 1960-an. Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah saat ia menceritakan strategi cerdik-nya dalam mengerjakan skripsi agar cepat lulus dan bisa segera menikah.
Nego Halaman Skripsi
JK mengaku sempat melakukan negosiasi dengan dosen pembimbingnya saat itu, Pak Timena, terkait syarat minimal jumlah halaman skripsi.
"Saya tanya beliau, 'Pak skripsi itu minimum berapa halaman?' Bilang (dijawab) 50," kenang JK.
Tak puas sampai di situ, JK kembali bertanya dengan nada polos, "'Itu grafik boleh masuk enggak?' Tergantung konteksnya (jawab dosen)."
Mendengar celah tersebut, JK akhirnya memutuskan untuk membuat skripsi dengan tebal yang sangat 'efisien'.
"Maka saya pilihlah skripsi 54 halaman, (itu sudah) termasuk grafik-grafik," ujar JK yang langsung disambut ledakan tawa seluruh hadirin di ruangan.
Tipis tapi 'Penelitian Betul'
Meski tebalnya pas-pasan, JK menegaskan bahwa isi penelitiannya tidak main-main. Ia mengangkat topik tentang Beras dan melakukan riset lapangan secara serius, hingga ke pasar-pasar dan gudang logistik di Sulawesi Selatan.
"Tapi saya penelitian betul, penelitian tentang beras. Jadi saya ke daerah, pasar, ke Bulog," tegasnya.
Advertisement
Jadi Bekal Karier Politik
Siapa sangka, skripsi setebal 54 halaman itulah yang justru membuka jalan karier besarnya.
Karena dianggap menguasai masalah beras lewat skripsinya, JK direkomendasikan menjadi Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog/Dolog) di daerahnya oleh Gubernur saat itu.
Advertisement
Berguna Hingga Puluhan Tahun
Bahkan, pengetahuan dari skripsi itu masih berguna puluhan tahun kemudian saat ia menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan yang merangkap Kepala Bulog. Ia mampu membuat para pejabat Bulog terkejut karena penguasaannya terhadap detail komoditas beras.
"Begitu saya kumpul, saya ceramah tentang beras, semua terkejut. Saya tahu detailnya bagaimana beras itu, karena skripsi. Jadi skripsi juga penting itu," pungkas JK menutup ceritanya.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie