Jemaah haji lansia dan risti diminta tak paksakan diri lontar jumrah
Merdeka.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali mengimbau kepada jemaah haji Indonesia yang sudah lanjut usia (lansia) tidak memaksakan diri melontar jumrah. Jika tidak mampu, melontar jumrah bisa dibadalkan atau diwakilkan.
Menag melihat, pada hari pertama waktu melontar jumrah, 10 Zulhijjah, kepadatan terjadi di sekitar jamarat. Agar tidak jatuh korban, Menag mengimbau jemaah yang lansia dan memiliki risiko tinggi (risti) sebaiknya melontar jumrahnya dibadalkan.
"Luar biasa, jemaah padat sekali. Saya mengimbau kepada ketua kloter, ketua rombongan, ketua regu agar menginformasikan jemaahnya yang lansia dan risti tidak memaksakan diri melontar jumrah. Karena melontar jumrah bisa dibadalkan," kata Menag usai melontar Jumrah Aqobah, Mina, Jumat (1/9).
Menag mengatakan, rangkaian ibadah haji adalah pengalaman spiritual jemaah masing-masing. Namun, dalam melaksanakan ibadah pun Islam mengajarkan tidak boleh berlebihan. Beribadah harus sesuai dengan kemampuan, termasuk proses ibadah haji dalam melontar jumrah.
"Jangan memaksakan terus menerus. Kita tidak boleh berlebih-lebihan sekalipun itu dalam ibadah," ujarnya.
Pada Jumat kemarin sore, pantauan di sekitar jamarat banyak jemaah haji Indonesia kelelahan setelah melontar jumrah. Rata-rata mereka jemaah lansia.

Tidak hanya kelelahan, banyak jemaah juga kebingungan dan nyasar saat hendak ingin kembali ke pemondokannya di Mina. Jarak yang terlalu jauh di atas 4 km antara jamarat dan pemondokan di Mina, membuat jemaah keletihan di tengah jalan.
Melontar jumrah membutuhkan tenaga ekstra. Semoga pelaksanaan lontar jumrah pada 11 Zulhijjah berjalan lancar dan tertib. Amin.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya