Istri napi otak pembunuhan satu keluarga ragukan suami tewas bunuh diri
Merdeka.com - Tika, (32), ibu dua anak, warga Kabupaten Jeneponto, Sulsel meragukan penyebab kematian suaminya, Akbar Ampuh, (32). Mendiang Akbar, suaminya, menjadi narapidana Lapas Kelas I Makassar atas kasus narkoba, pembunuhan, pencurian dan terakhir tersangka otak pembunuhan satu keluarga di Makassar latar belakang bisnis narkoba, awal Agustus 2018 lalu.
Ia ditemukan sudah tak bernyawa dengan kondisi leher terlilit rantai borgol di dalam sel isolasi.
Tika mengungkapkan, malam hingga subuh sebelum suaminya ditemukan tewas, ia masih berkomunikasi melalui saluran telepon hasil pinjam dari teman.
Pukul 03.00 Wita, dia dibangunkan untuk salat tahajjud dan banyak berdoa minta perlindungan. Lalu pukul 04.30 Wita, dibangunkan lagi untuk salat subuh. Setelah itu Akbar Ampuh mengatakan tidak lagi menelpon karena akan menunggu Tika dan anak-anaknya pagi hari.
"Baek-baek sama bapaknya anak-anak. Mau ketemu saya, kenapa dibilang bunuh diri. Di foto-foto yang dikirim keluarga, lihat mukanya sama bibirnya bengkak besar sekali, juga hitam seperti orang sudah dipukul," tutur Tika dari balik telepon dengan logat Makassarnya yang kental, Rabu, (24/10).
Karena hubungan dengan suaminya baik-baik saja, bahkan sempat bertemu di Lapas kelas I Makassar dua hari sebelum suaminya meninggal dunia yakni Jumat lalu, (19/10), Tika membantah kalau dikatakan suaminya bunuh diri salah satunya karena masalah keluarga. Dia berharap polisi menelusuri lagi penyebab kematian Akbar Ampuh. Benarkah bunuh diri atau dibunuh.
Sementara itu, Kapolrestabes Makassar, Kombes Irwan Anwar yang ditemui di tengah unjuk rasa kasus bendera kalimat tauhid di jl Perintis Kemerdekaan memastikan bahwa kematian Akbar Ampuh yang mengantongi banyak catatan kriminal itu adalah karena bunuh diri.
"Diduga kuat bekas lilitan di leher korban itu karena rantai di tangan dan kaki yang dililitkannya sendiri di leher. Sementara ini juga tidak ditemukan bukti-bukti atau tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," kata Irwan Anwar.
Akbar Ampuh ini, lanjutnya, berada di ruang isolasi dan dalam kondisi terborgol lantaran beberapa pelanggaran yang sering dilakukannya di dalam Lapas. Ada rekannya narapidana yang lain, Iwan Lili juga di dalam ruang isolasi tapi di ruangan berbeda. Karena di ruang isolasi, dia tidak boleh berkomunikasi dan berinteraksi dengan narapidana lainnya.
"Jadi kecil kemungkinan ada pihak yang masuk ke ruangannya itu kecuali petugas Lapas saat bertugas," kata Irwan Anwar seraya menambahkan, untuk proses penyidikan terhadap pelaku lainnya atas tindak pidana pembunuhan satu keluarga dengan cara membakar rumah itu tetap akan berlanjut meski Akbar Ampuh, sebagai dalangnya telah meninggal dunia.
(mdk/rhm)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya