ISIS Bangun Jaringan Filipina-Malaysia-Indonesia di Bawah Komando Mahmud Ahmad

Selasa, 22 Januari 2019 14:17 Reporter : Wisnoe Moerti
ISIS Bangun Jaringan Filipina-Malaysia-Indonesia di Bawah Komando Mahmud Ahmad Ilustrasi Teroris. ©shutterstock.com/Marijus Auruskevicius

Merdeka.com - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengundang puluhan atase pertahanan negara-negara sahabat di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa (22/1). Dia menjelaskan analisanya soal ancaman terorisme di wilayah Asia Tenggara.

Ancaman terorisme dan radikalisme perlu mendapat perhatian serius. Sebab, sifatnya lintas negara. Sehingga memerlukan penanganan kolektif dan tindakan bersama-sama dalam menghadapinya. Dengan kolaborasi antar negara. Kekuatan ISIS yang berbasis di Filipina Selatan telah dijadikan sebagai salah satu basis teroris dan ikut memicu aksi-aksi teror di Asia Tenggara.

Kelompok itu berencana untuk membangun jaringan dengan menggabungkan antara Islamic State Phillipines, Islamic State Malaysia dan Islamic State Indonesia di bawah pimpinan Mahmud Ahmad yang merupakan bagian dari struktur ISIS Pusat di bawah Pimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi yang berbasis di Irak.

"ISIS bukanlah masalah agama, tetapi adalah buah dari konflik politik di Irak pasca-Saddam Husein. Hal ini harus jelas diketahui oleh semua bangsa dan negara di dunia," ucap Ryamizard seperti dilansir Antara (22/1).

Ancaman lainnya, kata purnawirawan Jenderal Bintang empat ini, ancaman terhadap ideologi dengan melakukan cuci otak atau brainwash. Ini sudah terjadi. Dia mencontohkan aksi teror bom bunuh diri yang dilakukan satu keluarga di Surabaya tahun lalu.

"Dalam proses 'brainwash', aktivitas yang terjadi antara lain mengontrol pikiran, mencuci otak, mengonstruksi ulang pemahaman seseorang, merayu seseorang dengan agak memaksa, menginstal pikiran seseorang dengan ideologi, fakta atau data, dan penjelasan yang sangat intens," katanya.

Ryamizard mengatakan, dinamika perkembangan lingkungan strategis membawa perubahan terhadap kompleksitas ancaman yang berimplikasi pada pertahanan negara. Menurutnya, untuk mengatasi potensi ancaman bersama pada lingkup global dan lingkup kawasan, diperlukan mekanisme kerja sama kawasan.

"Sehingga kita memiliki kesamaan cara pandang di dalam mengambil langkah-langkah bersama yang konkret dan konstruktif," ujarnya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) ini menekankan perlunya komunitas ASEAN untuk bersatu dengan memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan dalam menghadapi beberapa isu faktual di kawasan, seperti misalnya isu Korea Utara, perkembangan Laut China Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS Asia Timur serta perkembangan krisis Rohingya.

Saat ini di kawasan ASEAN setidaknya terdapat tiga area kerja sama maritim yang menjadi sorotan dunia, yakni Patroli Terkoordinasi Selat Malaka, kerja sama maritim negara-negara di kawasan Teluk Thailand dan kerja sama Trilateral di Laut Sulu.

"Kerja sama trilateral ke depan juga dapat melibatkan Singapura, Thailand, Vietnam dan negara ASEAN lainnya. Perluasan kerja sama ini sangat diperlukan untuk menciptakan konektivitas kerja sama sub-regional," ucapnya. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini