Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini kronologi Bonek vs polisi berujung pemukulan wartawan

Ini kronologi Bonek vs polisi berujung pemukulan wartawan Bonek ricuh di Jl Darmo, Surabaya. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Keputusan Kongres Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) di Jakarta, berbuntut kerusuhan di Surabaya, Jawa Timur, Kamis malam (10/11). Aksi anarkis dilakukan ribuan suporter Bonek, yang marah karena klub kesayangannya, Persebaya Surabaya tidak ikut Kompetisi 2017.

Di insiden itu, beberapa wartawan ikut jadi korban pemukulan tindakan represif aparat kepolisian, yang tengah menghalau anarkisme massa.

‎Aksi Bonek dimulai sekitar pukul 20.00 WIB di Taman Apasari, atau tepatnya di depan Gedung Grahadi Surabaya, Jalan Gubernur Suryo. Setelah berorasi dan melakukan aksi bakar-bakaran, sekitar 60 menit mereka membubarkan diri dan berkonvoi menyebar di sejumlah titik.

Kemudian mereka menggelar konvoi menuju Bambu Runcing, Patung Karapan Sapi, Tugu Polisi Istimewa, Taman Bungkul, Pasar Wonokromo, Jalan A Yani, Bundaran Waru dan tempat-tempat sporadis lainnya di Jalan Kertajaya‎, Jalan Kali Kepiting dan sekitarnya.

Saat berada di Jalan Darmo, sekitar pukul 21.30 WIB, mereka mulai melakukan aksi anarkis dengan merusak sejumlah fasilitas umum, membakar ban, dan melakukan aksi perampasan motor serta merusak mobil polisi di Pos Polisi depan Kebun Binatang Surabaya (KBS).

Di insiden inilah terjadi perampasan kamera dan pemukulan wartawan. Yang jadi korban tindakan represif aparat adalah reporter RTV, Sholihul Hadi dan Diday dari Jawa Pos.

Di hadapan Wakapolrestabes Surabaya AKBP Denny ‎Setia Nugraha Nasution, Hadi mengatakan ada dua polisi menghampirinya dan bertanya "Kamu dari mana?" "Saya jawab saya dari RTV," kata Hadi, Jumat (11/11).

Jawaban reporter asli putra Madura ini tak ada artinya bagi polisi, dan memaksa meminta kamera Hadi, yang coba melawan. Jumlah polisi yang mengeroyoknya bertambah banyak dan membentak-bentak.

bonek mania rusuh

Bonek Mania rusuh ©2016 merdeka.com/moch. andriansyah

"Waktu itu saya mengambil gambar kejadian, kemudian kamera saya diminta, saya menolak. Saya dikeroyok, kemudian tiba-tiba kepala saya dipentung," lanjutnya.

Lantaran dikeroyok, Hadi mengaku sempat menantang satu lawan satu. "Saya terus bilang, karena berani satu-satu. Kemudian ada polisi yang bilang sim card-nya sudah aman. Kamera saya selamat tapi sim card-nya sudah tidak ada," keluhnya.

Pun begitu dengan Diday, yang diintimidasi aparat. Karena menolak menghapus foto kejadian, perutnya juga jadi samsak hidup. ‎Karena meringis kesakitan, Diday pun menyerah.

Tindakan represif aparat juga terjadi di Frontage sisi barat Jalan A Yani, atau arah masuk Kota Surabaya sisi selatan. Ratusan Bonek yang berkonvoi dihalau ratusan polisi, sekitar pukul 22.45 WIB.

Polisi dari Unit Sabhara Polrestabes Surabaya ini memburu Bonek dengan motor dari arah berlawanan. Dua truk pasukan dan mobil water canon juga melaju kencang dari arah berlawanan.

Aksi polisi ini membuat para suporter Persebaya Surabaya ini kocar-kacir. Polisi juga melepas tembakan gas air mata sekali. Sejumlah Bonek ditangkap. Mereka dipukul dan ditendang.

Di momen inilah, sejumlah wartawan, baik cetak, elektronik dan televisi yang juga datang ke lokasi berusaha mengambil momen tersebut dengan kameranya, termasuk wartawan merdeka.com.

Seperti dialami Hadi dan Diday di Jalan Darmo, sejumlah wartawan di Jalan A Yani ini juga dilarang mengambil gambar dan dibentak-bentak. Meski sudah mengaku wartawan, tetap saja dibentak dan diminta menghapus file gambar kejadian.

Salah seorang polisi lainnya, juga melingkarkan tangan kanannya ke leher wartawan merdeka.com, siap dengan kuncian sembari meminta gambar dihapus.

Juga begitu dengan reporter SBO TV, dan jurnalis lain yang dibentak dan diminta menghapus file kameranya. Hanya saja, insiden di Jalan A Yani, tidak ada aksi pemukulan terhadap wartawan.

‎Sekitar pukul 23.30 WIB, kondisi Kota Surabaya sudah mulai kondusif. Konvoi para Bonek yang menyebar di sejumlah titik, sudah tak terdengar. Namun aparat kepolisian tetap disiagakan di Taman Bungkul, serta di sejumlah tempat vital lainnya.

Atas insiden ini, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Imam Sumatri yang diwakili Wakapolrestabes AKBP Denny ‎Setia Nugraha Nasution menyampaikan permintaan maaf.

wartawan jadi korban kerusuhan bonek

Wartawan jadi korban kerusuhan Bonek ©2016 Merdeka.com

Denny mengaku, saat itu kondisinya tak berimbang. Personel yang disiagakan mengamankan aksi Bonek yang tanpa izin alias ilegal Kamis malam itu, tak lagi bisa membedakan antara Bonek, warga, perwira polisi dan juga wartawan.

Sehingga dalam situasi rusuh itu, terjadilah insiden pemukulan dan perampasan kamera wartawan. Termasuk salah satu perwira polisi juga sempat jadi korban keberingasan anggotanya.

Sementara Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Shinto ‎Silitonga mengatakan, dari insiden Kamis malam itu, pihaknya mengamankan 76 orang, yang saat ini masih menjalani proses pemeriksaan di Mapolrestabes Surabaya.

Shinto juga mengatakan, sesuai analisa hasil cyber patroli, telah diidentifikasi pola mobilisasi massa Bonek dengan cara memprovokasi massa melalui akun Faacebook (FB) Arek Bonek 1927, yang kemudian diteruskan melalui pesan WhatsApp (WA), BBM dan SMS sehingga menjadi viral.

"Tanpa melakukan verifikasi informasi tersebut, massa langsung mengikuti instruksi untuk berkumpul di Taman Apasari dan melakukan konvoi dengan skala besar," ungkapnya. (mdk/cob)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP