Ingatkan Utang BPJS hingga Rumah buat Warga Miskin, Dedi Mulyadi Tetap Minta Bupati Wali Kota Rapat di Kantor

Gubernur Jawa Barat berpendapat bahwa fasilitas kantor pemerintah sudah memadai untuk menyelenggarakan rapat.

Dikdik Ripaldi
Oleh Dikdik Ripaldi - Reporter
Ingatkan Utang BPJS hingga Rumah buat Warga Miskin, Dedi Mulyadi Tetap Minta Bupati Wali Kota Rapat di Kantor
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi. (Dok. DPR RI) (© 2025 Liputan6.com)

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi tetap meminta seluruh bupati dan wali kota, beserta staf tetap menghindari penyelenggaraan rapat di hotel-hotel. Meski pemerintah memberikan sedikit kelonggaran, Dedi berharap semua anak buahnya tetap konsisten melakukan efisiensi sebagai upaya memangkas pengeluaran yang tidak perlu.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap memutuskan dan meminta seluruh bupati dan wali kota, kita rapat menggunakan kantor-kantor kita yang ada,” ujarnya.

Dedi menilai fasilitas kantor pemerintah sudah cukup memadai untuk menyelenggarakan rapat. Selain itu, keputusan penting tetap bisa diambil di ruang kerja masing-masing.

Dia meminta anggaran yang ada difokuskan pada program prioritas yang lebih mendesak. Seperti pembangunan rumah bagi masyarakat kurang mampu, infrastruktur, dan penyelesaian masalah publik di Jawa Barat.

“Utang BPJS kita masih 300 miliar lebih, 360 miliar, infrastruktur belum selesai semua, anak-anak harus bisa sekolah sampai SMA, jaringan irigasi harus terbangun dengan baik, sanitasi lingkungan harus tertata, rumah rakyat miskin harus terbangun,” tegasnya

Dedi menambahkan, seluruh kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi jika aparat pemerintah memiliki sikap yang efisien. “Jadi saya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sebagai gubernur, meminta seluruh bupati wali kota tetap menjalankan pemerintahan dengan menggunakan fasilitas gedung kantor yang kita miliki,” pungkasnya.

Industri perhotelan di Bandung saat ini mengalami penurunan yang signifikan. Hotel bintang 3 menjadi segmen yang paling terdampak, dengan tingkat okupansi yang menurun drastis. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah kota berencana memberikan insentif.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan banyak hotel bintang 3 yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menjadi kelompok yang paling rentan. Meskipun tarif sewa hotel bintang 3 lebih terjangkau dibandingkan hotel bintang 4 atau 5, situasi ini tetap memprihatinkan.

"Kondisi mereka paling memprihatinkan," ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu, (10/6).

Penurunan okupansi terlihat jelas pada periode libur panjang Idul Adha yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 9 Mei. Farhan mencatat bahwa hanya pada hari Sabtu, setelah Idul Adha, tingkat hunian mencapai 100 persen. "Sisanya langsung turun tajam. Hari Minggu dan Senin hanya 50 persen. Ini sangat memprihatinkan," ungkapnya.

Menurut Farhan, kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku industri pariwisata di Bandung sangat memerlukan insentif dan program strategis untuk menarik kembali wisatawan. Oleh karena itu, Pemkot Bandung berencana untuk mengadakan kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di hotel-hotel, terutama di hotel bintang 3.

Farhan menekankan pentingnya memberikan insentif kepada pelaku industri pariwisata agar sektor ini dapat bertahan.

"Saatnya kita berikan insentif pada pelaku industri pariwisata. Ini penting agar sektor ini bisa bertahan," tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa sektor perhotelan merupakan salah satu industri terbesar yang berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta menyediakan banyak lapangan pekerjaan.

"Kita harus memastikan APBD bisa menggerakkan ekonomi, salah satunya melalui kegiatan MICE," katanya.

Pemkot Bandung akan memberikan berbagai bentuk insentif kepada hotel bintang 3 dengan syarat tertentu, termasuk larangan untuk melakukan PHK terhadap karyawan mereka.

Rekomendasi