HUT ke-73 RI, Purbalingga punya PR bereskan masalah kemiskinan
Merdeka.com - Masuk urutan no 4 tingkat kemiskinan tertinggi di antara 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah, pengentasan kemiskinan jadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Momentum Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-73 kali ini, dijadikan ajang refleksi pemantik semangat juang pengentasan kemiskinan.
Plt Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, mengatakan Purbalingga masih banyak memiliki pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan khususnya masalah kemiskinan. Pada tahun 2017, kemiskinan di Purbalingga sebanyak 18,78%. Persentase ini memang menurun dibanding tahun 2015 sebanyak 19,7%, lalu 18,98% di tahun 2016.
Sedang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Purbalingga, diakui Tiwi masih tergolong rendah. Purbalingga berada di peringkat ke-27 dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. IPM Purbalingga tiap tahunnya terus mengalami kenaikan, saat ini berada di angka 67,48 persen dari yang sebelumnya 67,03 persen.
"Saya yakin Kabupaten Purbalingga masih punya potensi yang luar biasa. Banyak peluang yang bisa dimanfaatkan seperti akan adanya bandara. Efeknya luar biasa, karena telah mengundang investor untuk membangun hotel atau resort di sini," kata Tiwi di acara Malam Tasyakuran dalam rangka Peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan RI, Kamis (16/8) di Pendopo Dipokusumo Purbalingga.
Terkait perayaan HUT RI ke-73, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan.
Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsosdalduk KBP3A) semisal, sempat melaksanakan anjangsana ke janda perintis kemerdekaan RI atas nama Sampi Sanwireja di Desa Munjulluhur RT 01/01 pada Rabu (15/8) kemarin.
Sedangkan pada acara malam Malam Tasyakuran Peringatan HUT Ke-73 Kemerdekaan RI, Kamis (16/8) dilaksanakan pemberian bantuan Tahap I (Januari–Juni) kepada Orang dengan Kedisabilitasan Berat (ODKB). Bantuan ODKB untuk para penyandang cacat tersebut, diberikan kepada 5 orang dengan masing-masing mendapatkan bantuan sebesar Rp 1,8 juta.
Pada malam tasyakuran tersebut juga diselenggarakan sarasehan dengan narasumber Drs H Ahmad Kifni yang memberikan wejangan dan refleksi kebangsaan dari sisi toleransi beragama. Diharapkan wejangan tersebut bisa memupuk kembali semangat kebangsaan, dan semangat gotong royong.
"Kalau dalam hal berbangsa dan bernegara mari kita sama sama tidak terpisahkan. Kalau ada orang yang akan tenggelam, harus segera ditolong tanpa harus menanyai agamanya apa. Tapi kalau sudah dalam hal agama dan ibadah, kita tidak boleh mencampuradukan atau sinkretisme. Menghormati itu bagian dari ibadah," kata Ahmad Kifni.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya