Haedar Nashir: Tahun Politik Cukup Menguras Energi

Kamis, 7 Februari 2019 21:03 Reporter : Darmadi Sasongko
Haedar Nashir: Tahun Politik Cukup Menguras Energi Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Muhammadiyah sebagai organisasi keumatan ingin menghadirkan perspektif keagamaan yang damai, toleran, ta'awun atau persaudaraan. Tetapi juga membawa pencerahan untuk umat dan bangsa.

Diakui tahun politik 2019 dinilai begitu menguras energi. Akibatnya, ritme kerja positif menurun dan banyak peluang kerja produktif yang hilang karena energi habis terkuras.

"Jujur, di tengah tahun politik itu cukup menguras energi kita. Sebenarnya kita sering kehilangan ritme dan peluang kerja produktif, karena energinya habis," kata Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/2).

Di tengah suasana politik seperti itu, Muhammadiyah tetap positif melihat politik. Agar warga negara tetap menggunakan hak politiknya yang nantinya disampaikan dalam Pemilu 17 April mendatang.

"Tapi jangan bawa-bawa politik menjadi pertandingan yang keras. Yang melibatkan isu-isu keagamaan, suku, ras, antar-golongan, maupun isu-isu politik yang radikal, karena politik juga bisa radikal," tegasnya.

Kata Haedar, karena orang berpolitik serba memutlakkan maka politik juga bisa radikal. Segala hal yang berawal dari memutlakkan akan melahirkan sikap radikal, politik, ekonomi, budaya dan agama.

Muhammadiyah ingin menjaga perannya sebagai institusi civil society yang netral, dan tidak menjadi partisan. Sehingga tetap menjadi katup pengaman, sekaligus mediator dalam dinamika politik kebangsaan.

Kondisi keberagamaan, kata Haedar, sejauh tidak dibawa-bawa dalam politik partisian, maka arus besarnya masih tetap moderat.

"Karena itu ketika ada benih-benih yang cenderung ekstrem, atau mempolitisasi agama, budaya, kekuasaan dan lain-lain, maka tugas kita, kelompok-kelompok civil society, ormas dan media massa menjunjung tinggi objektivitas. Kita harus menjadi kekuatan kontrol terhadap realitas itu," jelasnya.

Haedar juga mengatakan, bangsa Indonesia memiliki generasi milenial yang besar. Mereka perlu mempunyai harapan, optimisme dan ruang berartikulasi sebagai generasi bangsa. Kaum milenial memiliki potensi besar.

"Tetapi kalau ruangnya sumpek, mereka tidak akan menjadi anak-anak bangsa yang unggul dan berartikulasi maju. Muhammadiyah ingin tetap merawat ini. Mari kita mengajak, menciptakan suasana agar generasi milenial diberi ruang punya optimisme baru dalam berbangsa dan bernegara," katanya.

Haedar Nashir menjadi salah satu narasumber dalam Sarasehan Kebangsaan Pra-Tanwir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Turut menjadi narasumber Menteri Pendidikan Nasional Muhadjir Effendy, Dewan Penasehat Presiden Malik Fajar, Filsuf Frans Magnis Suseno. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini