Hacker di Bali Bajak Email Notaris Alihkan Pembelian Tanah Senilai Rp1 Miliar

Senin, 9 September 2019 13:13 Reporter : Moh. Kadafi
Hacker di Bali Bajak Email Notaris Alihkan Pembelian Tanah Senilai Rp1 Miliar Dua Tersangka Kasus Pembajakan Email. ©2019 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - Kepolisian Polda Bali menangkap dua pria yang merupakan tersangka kasus Hijacking Emali atau kasus pembajakan email. Para tersangka tersebut bernama Ricardus (30) dan Sofani (34).

"Kasus ini bermula dari pembelian tanah," kata Direktur Reskrimsus Polda Bali, Kombes Pol Yuliar Kus Nugroho, di Mapolda Bali, Senin (9/9).

Kronologinya pada tanggal 22 Februari 2019 lalu, korban yang bernama Cristop Warga Negara Asing (WNA) Kanada berencana membeli sebidang tanah di Bali dan berhubungan dengan salah satu notaris di Kabupaten Badung, Bali.

Kemudian, oleh notaris dijelaskan bahwa korban harus membuat perjanjian dan kemudian notaris memberi korban nomor rekening dan sekaligus menjelaskan pembayarannya dengan cara transfer dan jika genap Rp1,3 miliar maka transaksi akan terjadi.

Selanjutnya pada tanggal 14 Maret 2019, korban mentransfer sebesar Rp340 juta ke rekening yang diberikan oleh notaris dan mengirim bukti transfer ke email milik notaris. Namun, pada tanggal 15 Maret 2019, korban menerima email dari alamat email yang sama dengan alamat email notaris tersebut dan merubah rekening tujuan transfer ke rekening BRI Jakarta atas nama tersangka Sofani.

"Kemudian pelapor (korban) melakukan 3 kali transfer sampai berjumlah Rp1 miliar lebih. Selanjutnya korban mengirim pesan melalui whatssapp ke notaris untuk menanyakan uang pembayaran, namun ternyata menurut keterangan notaris uang yang masuk baru Rp340 juta dan tidak pernah mengganti rekening," jelas Yuliar.

Dari kejadian tersebut, dari pihak notaris baru sadar bahwa terhadap alamat emailnya telah di bajak oleh orang untuk melakukan penipuan dan kemudian melaporkannya ke Mapolda Bali.

Dari laporan tersebut, pihak kepolisian melakukan penyelidikan dan ditemukan data tersangka Sofani yang menerima uang transferan ke rekeningnya sejumlah lebih dari Rp1 miliar. Kemudian uang tersebut dikirim kembali ke tersangka Ricardus.

"Dimana dari dua tersangka itu digunakan sebagai rekening penampung, dan terhadap keberadaan pelaku utama yang melakukan pembajakan terhadap akun email tersebut saat ini masih dilakukan penyelidikan," ungkap Kombes Pol Yuliar.

Yuliar juga menjelaskan, untuk pelaku utama atau hacker masih belum diketahui keberadaannya dan sampai saat ini masih dilakukan penyelidikan.

"Modus operandinya, ialah meretas akun email milik notaris dan mengirim pesan ke pelapor (korban) seolah-olah pemilik email dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan memberikan rekening baru," ujarnya.

"Untuk proses pembayaran tanah tanpa sepengetahuan pihak notaris sehingga terhadap uang yang seharusnya dikirim ke rekening notaris, dikirim ke rekening lain oleh pelapor (Korban)," imbuh Kombes Pol Yuliar.

Itidak menyebutkan nama notaris tersebut dan juga tidak menjelaskan para tersangka ditangkap di daerah mana dan hari apa. Namun, untuk kasus tersebut dari pengakuan para tersangka mengenal pelaku utama atau hacker tersebut di Facebook

"Dia (dua tersangka) itu (hanya) rekening penampung sementara, dia di suruh menerima uang ini, dan setelah menerima uang dia disuruh transfer," ujarnya.

Dari pengakuan tersangka hanya menerima uang transferan dan rekening yang digunakan adalah dari 2 tersangka. Sementara yang melakukan penipuan dan pembajakan adalah pelaku utama alis hecker tersebut.

"Sementara akun (rekening) yang digunakan adalah atas nama dia (tersangka). Kalau dia menunjukkan orang lain kita masih sulit menunjukkan itu benar atau tidak dan masih ditelusuri," ujarnya.

"Kalau dia bilang orang lain kita kan tidak tahu siapa kan. Uang itu ditransfer lagi ditransfer lagi untuk mengelabui dan terakhir masuk ke Bit Coin," katanya. [rhm]

Topik berita Terkait:
  1. Hacker
  2. Aksi Hacker
  3. Denpasar
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini