Guru Besar Geografi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Prof. Supriatna ikut menyoroti keberadaan pagar laut di perairan Tangerang dan Bekasi.
Pagar-pagar terbuat dari bambu itu membuat heboh sepekan karena ditemukan misterius dengan jumlah bentang yang cukup panjang.
Prof Supriatna mengatakan, jika rencana proyek yang akan memanfaatkan wilayah pemagaran semata-mata untuk menahan laju sedimentasi di pesisir laut, maka yang harus ditata adalah wilayah daerah aliran sungai (DAS) di bagian darat.
Saat ini dia sedang mengkaji mengenai keberadaan pagar laut di sekitar Pantai Kabupaten Tangerang, Banten.
“Pagar laut itu apakah yang bangun PIK 2 atau bukan, kan kita enggak tahu kan katanya untuk menahan laju sedimentasi. Tapi laju sedimentasi biar terjadi saja, karena kan sedimentasi itu tergantung kepada wilayah di darat,” katanya, Kamis (16/1).
Dikatakannya, sedimentasi sebenarnya tidak terjadi jika penataan di daratan (DAS) dilakukan dengan baik. Sehingga seharusnya yang ditata adalah kawasan darat, bukan di laut.
“Kalau daratnya banyak perubahan land cover/land use-nya, pasti sedimentasi banyak. Jadi itu harusnya daratnya (ditata). Bukan dicegah sedimentasi segala macam, tapi diinikan (ditata), gitu ya,” ujarnya.
Dia mengaku heran mengapa pagar laut yang ada di pantai pesisir Kabupaten Tangerang menjadi perbincangan hangat saat ini. Padahal isu pagar laut itu sudah dari tahun 2023 sudah ada.
Menurutnya, berdasarkan kajian perubahan secara temporal dan spasial, pagar laut yang berada di pesisir Kab. Tangerang tersebut baru dibangun pada tahun 2023 di Sekitar Muara Sungai Cimandiri di sebelah barat yang panjangnya sekitar 11 km berdasarkan Citra Satelit Sentinel 2. Pada Tahun 2019-2022 tidak tampak pagar laut tersebut.
Pada bulan Juni tahun 2024, pagar laut bertambah panjang jadi 18 km ke arah barat-timur Muara Cisadane dan di bulan Oktober 2024 panjangnya menjadi 33 km bertambah ke arah barat.
Dia mengaku belum meneliti mengenai manfaat keberadan pagar laut laut tersebut. Mungkin untuk meredam ombak biar tidak terjadi abrasi, dan atau menahan laju sedimentasi.
Hanya saja, Prof. Supriatna mengatakan, keberadaan pagar laut sudah pasti menjadi penghalang bagi nelayan yang akan mengambil ikan/kerang di pesisir tersebut atau yang akan melaut melintasi pembatas tersebut.