Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu Tertutup Kabut

Senin, 21 Januari 2019 16:40 Reporter : Moh. Kadafi
Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu Tertutup Kabut asap gunung agung. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Gunung Agung di Kabupaten Karangsem, Bali, kembali erupsi, Senin (21/1) sekitar pukul 16.45 WITA. Namun dalam erupsi tersebut tinggi kolom abu tidak teramati.

Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi kurang lebih satu menit 52 detik.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menjelaskan, kolom abu tidak teramati karena kabut. Menurut Devy, Gunung Agung saat ini berada pada Status Level III (Siaga).

Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di radius 4 kilometer dari Kawah Puncak Gunu Agung. Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual atau terbaru.

"Gunung Agung aktivitasnya masih belum stabil dan rawan untuk terjadi erupsi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang. Namun agar mengikuti rekomendasi untuk tidak beraktivitas di zona bahaya yaitu radius 4 kilometer dari kawah," kata Devy, saat dikonfirmasi.

Selain itu, masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan.

"Jika material erupsi masih terpapar di area puncak, area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung," ujar Devy.

Penjelasan PVMBG Gunung Agung Dua Kali Erupsi

Gunung Agung di Kabupaten Karangsem, kembali erupsi sebanyak dua kali dalam waktu yang berdekatan pada Pukul 16.45 dan Pukul 17.00 Wita, Senin (21/1) sore.

Dari sumber data Pusat Vulkanoligi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tercatat saat terjadi erupsi pada pukul 16.45 Wita, terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi +11 menit 52 detik. Kemudian, pada pukul 17.00 terekam 23 mm dan durasi + 1 menit 17 detik.

Devy Kamil Syahbana selaku Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantuan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG menjelaskan, terjadinya erupsi karena overpressure atau kelebihan tekanan di dalam perut gunung.

"Semua erupsi terjadi karena overpressure atau kelebihan tekanan di dalam perut gunung. Tekanan ini bisa bersumber dari material magma yang naik secara masif maupun berupa gas-gas magmatik yang naik sedikit-sedikit untuk kemudian terakumulasi di kedalaman tertentu," ucapnya saat dikonfirmasi.

Menurut Devy, pada kondisi di mana lapisan penutup atau atas tidak mampu menahan tekanan ini, maka erupsi terjadi. "Hujan, adalah salah satu faktor eksternal yang bisa mempengaruhi aktivitas Gunung Api. Faktor eksternal lain yg bisa mempengaruhi aktivitas Gunung Api bisa juga gempa tektonik, efek tidal, dan lain-lain," ujarnya.

"Di Merapi, hujan pernah dilaporkan menyebabkan destabilisasi kubah lava. Air hujan, jika masuk ke dalam sistem vulkanik dan berinteraksi dengan uap magma yg panas, bisa juga memicu terjadinya hembusan bahkan letusan," tambah Denvy.

Devy juga menyampaikan, namun demikian, perlu diingat bahwa bukan hujan yang menyebabkan erupsinya, tapi memang karena ada kelebihan tekanan di dalam tubuh gunungnya. Sehingga erupsi terjadi.

"Adapun hujan hanya menjadi faktor trigger dari luar, hanya jika gunung apinya sedang kelebihan tekanan. Tidak semua gunung api langsung reaktif meletus karena hujan. Sekarang kan musim hujan, kalau memang hanya hujan yang menyebabkan erupsi, kenapa hanya Gunung Agung yang erupsi. Sementara gunung api lainnya tidak," tandas Devy. [gil]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini