Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Goyang erotis dangdut gerobak di Jatinegara

Goyang erotis dangdut gerobak di Jatinegara Penyanyi dangdut tarling. ©2013 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Malam mulai larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Tapi di bawah kolong sebuah jembatan yang tak jauh dari stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, justru terlihat keramaian.

Beberapa orang terlihat sibuk menyiapkan seperangkat alat pengeras suara, gitar, gendang, suling yang tersusun rapih di atas gerobak. Berbagai alat musik yang mereka bawa pun mulai disetel, petikan gitar, tepuk gendang, dan tiupan suling, sesekali terdengar dari speaker besar bertuliskan 'Dimana ada kamu disitu ada aku'.

Dunia hiburan malam kelas teri di pinggiran rel Jatinegara ini memang mulai ramai saat sebagian orang beristirahat di rumah setelah lelah bekerja seharian. Para pedagang kaki lima pun mulai membuka lapak minumannya di bawah lampu jalanan yang menyinari tenda-tenda pedagang yang dihiasi oleh beberapa kupu-kupu malam, pada Jumat (5/10) kemarin.

"Selamat malam semuanya," sapa seorang biduan dangdut yang terdengar melalui speaker sambil diiringi musik.

Lagu 'Cinta Satu Malam' pun mengawali konser kecil grup orkes Rima Musica Musik ini. Alunan suara biduan dangdut ini seakan jadi magnet tersendiri bagi setiap orang yang berada di lokasi. Bahkan mereka yang ada di sekitarnya juga tertarik mendekat dan ikut bergoyang bersama sang biduan yang malam itu pandu Arnengsih. Arnengsih yang mengenakan pakaian serba ketat ini pun tak canggung saat ditonton banyak orang.

"Kaya gitu mah sudah biasa, abis kalau nggak goyang nggak dapet saweran dong," kata wanita yang akrab disapa Nengsih ini, saat berbincang dengan merdeka.com usai menyanyikan sekitar lima lagu dangdut yang nge hits, saat itu.

Nengsih bercerita, sudah hampir 3 tahun dia menggeluti profesi dangdut keliling. Nengsih bukan satu-satunya perempuan di grup orkes dangdut keliling ini. Dia ditemani oleh Tina, yang sering bergantian bernyanyi di saat salah satunya mulai letih. Kedua wanita ini mengaku tidak merasa risih saat bergoyang dan dikerumuni para lelaki yang tak dikenal bahkan dalam keadaan mabuk pada malam itu.

"Saya berdua sama temen namanya Linda, kadang kita nyanyi berdua kadang gantian kalau lagi capek kayak gini. Kalau yang rese-rese pasti ada yah, misalnya nyolek-nyolek atau megang-megang pinggang kita. Tapi saya nggak takut, kan ada temen laki-laki di sini. Tapi ya namanya menggoda biasa itu mah," kata santai sambil beberapa kali mengusap keningnya.

Nengsih mengaku, goyangan-goyangan erotis yang dilakukannya semata-mata untuk mendapat uang dari para pria hidung belang. Dia menambahkan, jika ada yang mulai berlebihan, siasatnya dia bakal pindah ke pria lain dengan memegang uang receh di tangannya.

"Kalau udah mulai rese, mulai pegang-pegang, yah saya pindah orang. Tapi nggak semuanya rese kok, biasanya yang rese tuh kalau udah mabuk berat aja," paparnya.

Sementara itu Gondrong, penabuh gendang, mengaku hampir 10 tahun menjalani orkes keliling ini. Tidak jarang terjadi gesekan antara penikmat goyang dangdut ini yang berujung pada perkelahian.

"Kalau sampai ada yang berantem pasti pernah ada, tapi biasanya kita langsung hentikan, dan mengamankan mereka. Biasa lah orang mabuk kan gak bisa kontrol," jelas pimpinan orkes ini.

Gondrong menceritakan, dalam sehari mereka bisa mengumpulkan Rp 300 ribu - Rp 500 ribu. Namun sayang, uang tak seberapa itu harus dibagi lagi ke beberapa personel, dan sisanya dikumpulkan untuk perbaikan alat jika nantinya ada yang rusak.

"Kalau ramai bisa sampe Rp 500 ribu, bahkan Rp 700 ribu tapi jarang. Duit itu yah kita bagi lagi sama anak-anak ini. Palingan satu orang bisa ngantongin Rp 50.000 lah sehari, itu sudah bersih," tandasnya. (mdk/lia)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP