Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Garuda di Dadaku: Mengukur nasionalisme lewat sepakbola

Garuda di Dadaku: Mengukur nasionalisme lewat sepakbola ilustrasi sepak bola. merdeka.com/vegansoapbox.com

Merdeka.com - Film-film bertemakan sepakbola juga bisa dihasilkan oleh Indonesia. Tidak hanya mengejar keuntungan, film Garuda di Dadaku misalnya, dapat membangkitkan rasa nasionalisme para penonton untuk kemudian sama-sama memajukan sepakbola nasional.

Film Garuda di Dadaku sempat santer se-Indonesia pada tahun 2009 lalu, bahkan hingga saat ini. Film besutan Salman Aristo itu menceritakan perjalanan seorang bocah bernama Bayu yang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar. Ia memiliki satu mimpi dalam hidupnya yaitu menjadi pemain sepakbola hebat dan bercita-cita masuk sebagai pemain Tim Nasional U-13.

Sedemikian merasuknya cita-cita tersebut, hingga tiap hari Bayu dengan penuh semangat dan pantang menyerah terus menggiring bola menyusuri gang-gang di sekitar rumahnya. Dia men-dribble bola untuk sampai ke lapangan dan berlatih sendiri.

Dalam film tersebut, Bayu pernah bermimpi bermain bal-balan dengan almarhum ayahnya. Ayah Bayu memang dikenal sebagai pemain bola, namun karena cidera dia terpaksa berhenti menjadi pemain bola dan beralih menjadi sopir taksi.

Demi meneruskan cita-cita sang ayah, Bayu kemudian berlatih dan ingin menjadi pemain sepak bola handal. Namun cita-cita dan impian Bayu tersebut dipatahkan sang kakek yang bernama Usman. Dia beranggapan bahwa pemain sepakbola tidak memiliki masa depan dan hidup miskin. Tidak hanya itu, jika Bayu tetap terus bermimpi menjadi pemain sepak bola, sang kakek tidak segan-segan tidak mau mengakuinya sebagai cucu.

Selain nuansa nasionalisme dan patriotik, atmosfer persahabatan juga kental dalam film ini. Heri, sahabat Bayu yang juga penggila bola sangat meyakini akan kemampuan dan bakat Bayu. Ia adalah motivator dan ‘pelatih’ cerdas yang mampu meyakinkan Bayu agar ikut seleksi masuk Tim Nasional U-13 yang nantinya mewakili Indonesia berlaga di arena pertarungan sepakbola internasional.

Keberuntungan memang berpihak kepada Bayu. Di tengah tentangan sang kakek yang selalu mencekokinya dengan berbagai kursus, Bayu justru dipertemukan oleh seorang pelatih sekolah sepakbola Arsenal di Jakarta bernama Johan.

Pertemuan dengan pelatih Arsenal tersebut menjadi langkah awal perjalanan panjang Bayu  untuk masuk menjadi tim sepakbola nasional yang memakai seragam berlambang garuda di bagian dada, dengan nasionalisme dalam dada. (mdk/hhw)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP