FOTO: Potret Perubahan Pulau Gag Raja Ampat Akibat Tambang Nikel, Alam Hijau Kini Jadi Cokelat (Merdeka.com)
Pulau Gag menjadi sorotan menyusul polemik tambang nikel di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Aktivitas pertambangan tersebut dikhawatirkan memicu kerusakan pada kelestarian alam di Pulau Gag, Raja Ampat.
Dalam citra satelit Google Earth, terlihat perubahan signifikan terhadap bentang alam pulau tersebut dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Pulau Gag tampak memiliki tutupan hutan tropis lebat yang relatif stabil dari tahun 1984 hingga 2016. Namun, sejak 2017, mulai terlihat munculnya area terbuka berwarna cokelat yang kontras dengan dominasi hijau vegetasi khas Papua. Area ini diduga menjadi lokasi awal aktivitas eksplorasi dan pertambangan nikel terbuka.
Perubahan makin kentara pada 2018, ketika area-area cokelat berukuran besar mulai terbentuk di sejumlah titik. Lalu, citra satelit 2019 dan 2020 memperlihatkan area tambang semakin meluas secara bertahap. Ini mengindikasikan adanya peningkatan intensitas operasional pertambangan.
Sementara, citra satelit terbaru tahun 2025 memperlihatkan perluasan signifikan pada area terbuka. Kondisi ini menguatkan dugaan bahwa aktivitas tambang nikel terus berlangsung secara masif.
Perubahan signifikan pada Pulau Gag, dari lahan hijau nan asri menjadi area-area tambang terbuka ini menimbulkan kekhawatiran. Kerusakan lingkungan dinilai akan berdampak pada ekosistem lokal, kualitas air, hingga keberlanjutan hayati di Raja Ampat yang masuk dalam kawasan konservasi laut global.