Fayakhun akui pemberian SGD 500.000 buat Rapimnas Golkar diketahui Setnov

Selasa, 2 Oktober 2018 14:17 Reporter : Yunita Amalia
Fayakhun akui pemberian SGD 500.000 buat Rapimnas Golkar diketahui Setnov Fayakhun Andriadi diperiksa KPK. ©2018 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Fayakhun Andriadi, mantan anggota DPR RI, mengakui rencana memberikan sumbangan untuk perhelatan rapimnas Golkar di Bogor, tahun 2016 disampaikan langsung ke Setya Novanto saat masih menjabat sebagai Ketua Umum partai. Realisasi sumbangan tersebut kemudian disalurkan melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, keponakan Setya Novanto sekaligus terdakwa korupsi proyek e-KTP.

Mantan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta itu menjelaskan, uang SGD 500 ribu dia peroleh dari rekannya bernama Erwin, swasta. Uang ia peroleh jelang musyawarah pimpinan daerah (muspida).

Usai muspida digelar, Fayakhun menemui sang Ketua Umum, Setya Novanto dan mengutarakan keinginannya untuk membantu kegiatan partai. Novanto kala itu menanyakan nominal bantuan yang akan diberikan dan dijawab Fayakhun sebesar SGD 500 ribu.

Dia beralasan, bantuan diberikan kepada partai lantaran setiap kegiatan pasti banyak membutuhkan kontribusi kadernya.

"Karena beliau Ketua Umum saya, dan saya tahu kebutuhan partai pasti banyak akhirnya saya minta tolong ke Agus (Agus Gunawan, staf Fayakhun) untuk sampaikan ke pak Irvanto," tukasnya, Selasa (2/10).

Setelah uang dieksekusi ke Irvanto, tidak ada tagihan dari pihak Novanto. Hal itu dianggap Fayakhun uang telah diterima dengan baik.

Hanya saja, ia menggarisbawahi uang untuk rapimnas Golkar tidak terkait korulsi proyek e-KTP melainkan penerimaan suap dari proyek pengadaan alat satelit monitoring di Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Sementara, Irvanto membantah akan hal itu. Dia mengatakan tidak ada peristiwa penitipan uang SGD 500 dari Fayakhun melalui Agus Gunawan kepada Novanto.

Ia justru mengatakan sebaliknya, Fayakhun mendapat jatah Rp 5 miliar dan masih berada di Agus Gumiwang. Tidak disebutkan sumber jatah yang dimaksud Irvanto.

"Kepada saudara Fayakhun, saya akan tanyakan satu hal. Saya mengulang kejadian di suatu malam di rutan guntur disaksikan Eka Kamaludin, saksi (Fayakhun) hampiri saya dan sampaikan bahwa saksi ada jatah Rp 5 m di Agus Gumiwang, suruh nanti pakai nama saya untuk kembalikan ke SGD 500 tersebut," ujar Irvanto.

"Tidak pernah," bantah Fayakhun.

Diketahui, dua terdakwa saat ini Irvanto dan Made Oka didakwa turut serta melakukan tindak pidana korupsi yakni berperan sebagai pihak penampung uang korupsi untuk Setya Novanto dengan total USD 7,3 juta dengan rincian sebagai berikut;

Melalui Made oka Masagung, Setya Novanto menerima uang berjumlah USD 3.800.000 melalui rekening OCBC Center Branch atas nama OEM Investment, PT, Ltd. Kemudian kembali ditransfer sejumlah USD 1.800.000 melalui rekening Delta Energy, di Bank DBS Singapura, dan sejumlah USD 2.000.000.

Sementara melalui Irvanto dalam rentang waktu 19 Januari - 19 Februari 2012 seluruhnya berjumlah USD 3.500.000. Sehingga total uang yang diterima terdakwa baik melalui Irvanto Hendra Pambudi Cahyo maupun melalui Made oka Masagungseluruhnya berjumlah USD 7.300.000.

Uang-uang itu berasal dari Johannes Marliem sebagai vendor penyedia Automated Fingerprints Identification System (AFIS) merek L-1. Guna mengelabui adanya uang untuk mantan Ketua DPR itu dilakukan transaksi menggunakan barter dengan money changer.

AFIS untuk proyek e-KTP merupakan subkon dari PT Quadra Solution dengan Direktur Utama Anang Sugiana Sudiharjo. Kini Anang sudah berstatus terpidana menyusul terpidana sebelumnya yakni Irman, Sugiharto, Andi Agustinus alias Andi Narogong, dan Setya Novanto. Perusahaan Anang merupakan perusahaan peserta konsorsium PNRI. [rhm]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini