Psikolog Klinis Anggiastri H Utami baru-baru ini menyoroti pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi utama. Hal ini krusial dalam membentuk generasi muda Indonesia yang sehat, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan global di masa depan.
Penegasan tersebut disampaikan Anggiastri dalam sebuah sarasehan bertajuk "Ketahanan Keluarga untuk Fondasi Kuat Generasi Anak Bangsa". Acara penting ini diselenggarakan di Yogyakarta pada hari Sabtu, 20 September, menarik perhatian banyak pihak.
Menurut Anggiastri, ketahanan keluarga bukan sekadar ikatan emosional, melainkan juga mencakup pengasuhan berkualitas dan lingkungan yang sehat. Ini termasuk pemenuhan kebutuhan dasar anak serta penerapan nilai-nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Ketahanan Keluarga dalam Pengasuhan
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling utama bagi setiap anak dalam proses tumbuh kembangnya. Kualitas pengasuhan yang diberikan di dalam keluarga memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap perkembangan mereka.
Anggiastri menekankan bahwa "Proses anak bertumbuh dan berkembang itu sangat erat kaitannya dengan orangtua. Ketahanan keluarga menjadi kunci sekaligus memperkuat fondasi bangsa untuk masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat bergantung pada pengasuhan yang baik di keluarga."
Tumbuh kembang anak yang optimal sangat bergantung pada praktik pengasuhan yang baik dan konsisten di lingkungan keluarga. Ini mencakup aspek fisik, mental, emosional, dan sosial anak.
Advertisement
Advertisement
Omah Perden: Mengintegrasikan Budaya Jawa dan Psikologi Modern
Sarasehan tersebut merupakan bagian dari peringatan Sewindu Omah Perden, sebuah Pusat Kajian dan Pendidikan Anak-Keluarga. Lembaga ini secara konsisten memadukan budaya Jawa dengan konsep pendidikan dan psikologi modern sejak awal berdirinya.
Omah Perden mengimplementasikan filosofi Jawa seperti asah-asih-asuh (melatih, menyayangi, mengasuh), andhap asor (rendah hati), dan mbelani rasane bocah (memperhatikan dan memahami emosi anak). Nilai-nilai luhur ini dijadikan panduan dalam praktik pengasuhan sehari-hari.
Dalam acara tersebut, Omah Perden mengangkat tema Ngudi Rasa-Ngulir Budi, Amerdi Siwi. Tema ini bertujuan untuk mengenalkan dan mengolah perasaan anak, serta mengembangkan kemampuan berpikir, motorik, dan sosial mereka secara holistik.
Advertisement
Advertisement
Ragam Kegiatan Edukatif dan Visi Masa Depan Omah Perden
Selain sarasehan utama, acara peringatan Sewindu Omah Perden juga menghadirkan beragam kegiatan menarik dan edukatif. Terdapat panggung seni, sesi dongeng interaktif, kelas seni kreatif, permainan anak, hingga pojok jajanan tradisional.
Seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang secara khusus untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan berkesan bagi seluruh anggota keluarga yang hadir. Tujuannya adalah menciptakan momen kebersamaan yang berkualitas.
Peringatan delapan tahun berdirinya Omah Perden juga menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan visi dan misi pusat kajian ini kepada masyarakat luas. "Kami ingin masyarakat tahu apa yang kami lakukan dan nilai-nilai yang kami bawa," ujar Anggiastri.
Advertisement
Ke depannya, Omah Perden berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan yang secara konsisten mendukung pendidikan anak dan keluarga berbasis budaya Jawa. Mereka juga akan membangun jejaring kolaborasi di bidang riset, edukasi, dan advokasi pengasuhan. Melalui program tersebut, diharapkan keluarga yang kuat akan menghasilkan generasi bangsa yang berkarakter dan siap menghadapi masa depan.
Salah satu pengunjung acara, Abi yang datang bersama istri dan dua anaknya, mengakui bahwa acara ini memberikan pengalaman yang edukatif dan menyenangkan. "Saya berharap Omah Perden semakin sukses dalam menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat bagi anak-anak dan orang tua," katanya.
Sumber: AntaraNews
Advertisement