Fakta Unik! Malang dan Ponorogo Resmi Jadi Kota Kreatif UNESCO, Indonesia Kini Punya 7 Kota Unggulan

Malang dan Ponorogo kini resmi menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO (UCCN). Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif global.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik! Malang dan Ponorogo Resmi Jadi Kota Kreatif UNESCO, Indonesia Kini Punya 7 Kota Unggulan
Malang dan Ponorogo kini resmi menjadi bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO (UCCN). Keberhasilan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif global. (AntaraNews)

Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah internasional dengan masuknya dua kota, Malang dan Ponorogo, ke dalam Jaringan Kota Kreatif Dunia UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/UCCN). Pengumuman ini disampaikan oleh Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, bertepatan dengan Hari Kota Dunia 2025 pada 31 Oktober lalu. Keberhasilan ini tidak lepas dari pendekatan kolaborasi heksaheliks yang melibatkan berbagai pihak dalam ekosistem kreatif nasional.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan bahwa pencapaian ini membuktikan potensi ekonomi kreatif Indonesia mampu bersaing di tingkat global. Kementerian Ekraf sendiri bertindak sebagai penghubung sentral (focal point) dalam proses seleksi UCCN, bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU). Mereka memandu kesiapan daerah serta memberikan pendampingan teknis agar kota-kota Indonesia siap bersaing.

Dengan penambahan Malang dan Ponorogo, Indonesia kini memiliki total tujuh kota yang tergabung dalam UCCN. Ini merupakan langkah maju yang signifikan dalam mempromosikan kekayaan budaya dan kreativitas Indonesia di mata dunia. Keberhasilan ini juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025–2029, yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai sektor kunci pertumbuhan.

Peran Kolaborasi Heksaheliks dalam Pencapaian Global

Keberhasilan Malang dan Ponorogo masuk UCCN adalah bukti nyata efektivitas pendekatan kolaborasi heksaheliks. Pendekatan ini melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media, dan masyarakat. Sinergi antara berbagai elemen ini menjadi kunci utama dalam mengembangkan ekosistem kreatif yang kuat dan berdaya saing.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) memainkan peran sentral sebagai fasilitator dan pendamping bagi pemerintah daerah. Mereka memastikan setiap kota memiliki kesiapan yang matang untuk memenuhi standar UNESCO. Proses seleksi dilakukan dengan sangat hati-hati, melibatkan tim penilai khusus dan aturan penilaian yang ketat untuk menjamin kualitas dan relevansi.

Menteri Riefky Harsya menegaskan, "Keberhasilan Ponorogo dan Malang menjadi bagian dari UCCN membuktikan bahwa potensi ekonomi kreatif Indonesia mampu bersaing di tingkat global." Pernyataan ini menunjukkan optimisme pemerintah terhadap kontribusi sektor kreatif. Hal ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif yang diperhitungkan di dunia.

Indonesia Kini Punya Tujuh Kota Kreatif UNESCO

Sebelum masuknya Malang dan Ponorogo, Indonesia telah memiliki lima kota yang diakui dalam jaringan UCCN. Kota-kota tersebut adalah Pekalongan (Kriya dan Seni Rakyat, 2014), Bandung (Desain, 2015), Ambon (Musik, 2019), Jakarta (Sastra, 2021), dan Surakarta (Kriya dan Seni Rakyat, 2023). Kini, dengan tambahan dua kota baru, total menjadi tujuh kota kreatif UNESCO.

Ponorogo terpilih berkat keunggulan di bidang Kriya dan Seni Rakyat, yang mencerminkan kekayaan budaya lokalnya. Sementara itu, Malang diakui karena keahliannya dalam Seni Media, menunjukkan inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Kedua kategori ini menambah keragaman representasi kreatif Indonesia di kancah global.

Secara keseluruhan, UNESCO Creative Cities Network kini mencapai 408 kota kreatif di lebih dari 100 negara di dunia. Bersama Malang dan Ponorogo, 56 kota lainnya dari berbagai negara juga resmi bergabung tahun ini, meliputi berbagai kategori kreatif:

  • Sastra: Aberystwyth (Inggris Raya), Abuja (Nigeria), Celje (Slovenia), Conakry (Guinea), Dumaguete City (Filipina), Gdańsk (Polandia), Kahramanmaraş (Turkiye), Lund (Swedia), San Luis Potosí (Meksiko), dan Tangier (Maroko).
  • Gastronomi: Al-Madinah Al-Munawwarah (Arab Saudi), Cuenca (Ekuador), Kelowna (Kanada), Lucknow (India), Manizales (Kolombia), Matosinhos (Portugal), Quanzhou (Tiongkok), San Javier de Loncomilla (Chili), Sifnos (Yunani), Songkhla (Thailand), dan Zaragoza (Spanyol).
  • Kriya dan Seni Rakyat: Andenne (Belgia), Bobo-Dioulasso (Burkina Faso), Cheongju City (Korea Selatan), Echizen City (Jepang), Faenza (Italia), Hebron (Palestina), Höhr-Grenzhausen (Jerman), Lubango (Angola), Masaya (Nikaragua), Nan (Thailand), Safi (Maroko), dan Sarchí (Kosta Rika).
  • Arsitektur: Bistrita (Rumania), Kashan (Iran), Lusail (Qatar), Quito (Ekuador), dan Rovaniemi (Finlandia).
  • Desain: Daugavpils (Latvia), Kuala Lumpur (Malaysia), La Spezia (Italia), dan Riyadh (Arab Saudi).
  • Film: Giza (Mesir), Ho Chi Minh City (Vietnam), Quezon City (Filipina), dan São Paulo (Brasil).
  • Musik: Evian (Prancis), Kisumu (Kenya), Korhogo (Pantai Gading), Kyiv (Ukraina), Lalitpur (Nepal), Liège (Belgia), New Orleans (Amerika Serikat), Nikšić (Montenegro), Varna (Bulgaria), dan Wuxi (Tiongkok).

Visi Ekonomi Kreatif Nasional dan Dampak UCCN

Pencapaian ini sangat relevan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 yang menargetkan ekonomi kreatif sebagai sektor kunci. Menteri Riefky melihat kreativitas lokal sebagai mesin pertumbuhan baru yang dapat mendorong pembangunan dari daerah. Ini adalah strategi penting untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Kota-kota kreatif menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi motor penggerak kemajuan nyata dalam pembangunan nasional. Status sebagai Kota Kreatif UNESCO tidak hanya meningkatkan citra kota. Status ini juga mendukung inisiatif lokal, menarik investasi, dan memperkuat persatuan sosial di antara warganya. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inovasi dan ekspresi budaya.

Dengan bergabungnya Malang dan Ponorogo, Indonesia semakin menegaskan komitmennya terhadap pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Diharapkan, pengakuan ini akan memicu lebih banyak kota di Indonesia untuk menggali dan mengembangkan potensi kreatif mereka. Hal ini akan membawa dampak positif bagi pembangunan ekonomi dan sosial secara keseluruhan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi